Senin, 13 April 2020

PTK Biologi

MODEL PEMBELAJARAN Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society )  DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR BIOLOGI MATERI POKOK MUTASI PESERTA DIDIK
KELAS XII-IPA  SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2017/2018

PENELITIAN TINDAKAN KELAS














Oleh:
Sumini, S.Pd














SMA UTAMA 2
KECAMATAN RAWA LAUT BANDAR LAMPUNG


HALAMAN PENGESAHAN
MODEL PEMBELAJARAN Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society )  DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR BIOLOGI MATERI POKOK MUTASI PESERTA DIDIK
KELAS XII-IPA  SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2017/2018


Nama Peneliti : Sumini, S.Pd
Tempat Penelitian : SMA UTAMA 2 Bandar Lampung
Tahun Penelitian : 2017 / 2018



Bandar Lampung,  Agustus 2017
Kepala Sekolah


                        Drs. Hi. Suyitno Guru mapel Biologi


Sumini, S.Pd


ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar biologi terutama pada materi pokok Mutasi dengan MODEL PEMBELAJARAN Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society )  DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR BIOLOGI . Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (action research) yang melibatkan empat komponen yakni: Planning (rencana), Action (tindakan), Observation (pengamatan), Reflection (refleksi).
Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XII-IPA2 SMA Utama 2 yang berjumlah 48 siswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus, dimana setiap siklusnya terdiri dari; 1) planning (rencana); untuk mengidentifikasi masalah dan merencanakan kegiatan pembelajaran dan membuat instrumen penelitian. 2) action (tindakan); melaksanakan model pembelajaran pendekatan SETS pada mata pelajaran biologi materi pokok mutasi. 3) observation (pengamatan); pengambilan data tentang aktivitas belajar melalui tes evaluasi, lembar observasi, serta lembar kuesioner. 4) reflection (refleksi); menganalisis data hasil pengamatan.
Dari hasil penelitian diperoleh: Hasil pengamatan aktivitas peserta didik pada siklus I yakni rata-rata aktivitas peserta didik dengan guru adalah 61,56% dan rata-rata aktivitas peserta didik dengan peserta didik adalah 66,79%, Dan jumlah keseluruhan aktivitas peserta didik adalah 77,78%. Untuk hasil pengamatan aktivitas peserta didik pada siklus II aktivitas peserta didik dengan guru adalah 78,43% dan rata-rata aktivitas peserta didik dengan peserta didik adalan 83,78%, dan jumlah keseluruhan aktivitas peserta didik 94,44 %.
Berdasarkan hasil penelitian ini maka model pembelajaran pendekatan SETS dapat meningkatkan aktivitas belajar biologi materi pokok mutasi peserta didik kelas XII-IPA  SMA Utama 2.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan nabi kita Muhammad SAW, para sahabat dan pengikutnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan dapat menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “MODEL PEMBELAJARAN Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society )  DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR BIOLOGI MATERI POKOK MUTASI”

Terwujudnya laporan ini berkat bimbingan, arahan serta bantuan dari berbagai pihak, maka dari itu perkenankanlah penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Lampung
2.Kepala UPTD Pendidikan Lampung
3.Kepala SMA Utama 2 Bandar Lampung
4.Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan PTK ini

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka penulis mengharap saran dan kritik demi penyempurnaan penyusunan laporan ini. Semoga penyusunan laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.



Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
PENGESAHAN ii
ABSTRAK iii                                           
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v

BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi dan Rumusan masalah 7
C. Penegasan istilah ……………………………… 7
D. Manfaat penelitian …………..…………………………… 7

BAB II: LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Landasan teori 7
B. Hipotesis Tindakan 33

BAB III: METODE PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian 10
B. Waktu dan Tempat Penelitian 10
C. Subyek Penelitian 10
D. Kolaborator Penelitian 10
E. Jadwal Penelitian 10
F. Teknik Pengumpulan Data 10
G. Metode Penelitian 10
H. Metode Analisis Data 11
I. Indikator Keberhasilan 11


BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Situasi dan Kondisi Tempat ..…………………………. 12
B. Data Hasil Penelitian..……………………………………………. 12
C. Pembahasan……………………………………………………… 12

BAB V: KESIMPULAN SARAN DAN PENUTUP
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15
C. Penutup 15

DAFTAR PUSTAKA 16


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar belakang

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang tercapai oleh peserta didik setelah diselenggarakannya kegiatan pendidikan.
Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah mesti melalui pembelajaran. Berbagai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar di sekolah telah muncul dan berkembang seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Pembelajaran merupakan aktivitas yang utama dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah.  Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan sistem lingkungan atau kondisi belajar yang lebih kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan mengajar yang merupakan proses membimbing kegiatan belajar.

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam individu siwa maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan disekitarnya.  Dalam proses pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Untuk itu diperlukan  peranan guru dalam proses belajar mengajar di kelas untuk  mempengaruhi keberhasilan peserta didik.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan cabang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis. IPA bukan hanya sekedar penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta¬fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Proses pembelajarannya menitik beratkan pada pemberian pengalaman langsung kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah. Belajar biologi dapat membantu siswa untuk memahami alam dan gejalanya, karena itu belajar biologi banyak berkaitan dengan penelitian dan penyelidikan, selama proses pencarian ini siswa dapat menumbuhkan sikap ilmiah dan nilai positif lainnya.

Beberapa sikap ilmiah yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran biologi antara lain sikap ingin tahu, jujur, tekun, terbuka tehadap gagasan baru, tidak percaya tahayul, sulit menerima pendapat yang tidak disertai bukti, berpikir logis, peka terhadap makhluk hidup dan lingkungannya. Berdasarkan observasi yang dilakukan guru, yaitu pada pembelajaran biologi tentang Mutasi di kelas XII-IPA SMA  Utama 2  tampak bahwa keaktifan dan kinerja peserta didik belum optimal, 65% peserta didik kurang memberi respon terhadap materi dan pertanyaan dari guru. Pembelajaran di kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Oleh karena itu seorang guru dalam penyampaian materi pelajaran biologi haruslah mengetahui metode dan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

Karakteristik pengetahuan Mutasi memungkinkan peserta didik berpikir kritis dan komprehensip jika pembelajarannya menggunakan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society). Melalui pendekatan ini peserta didik diharapkan dapat memahami keterkaitan antara struktur, fungsi dan proses serta kelainan / penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi dengan menerapkan konsep¬konsep yang dimiliki dari berbagai ilmu terkait

Salah satu pilihan dalam pembelajaran sains adalah SETS. Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society ) memberi penekanan pada konservasi nilai positif pendidikan, budaya dan agama, sementara tetap maju dalam bidang sains, tekhnologi dan ekonomi. Pembelajaran dalam pendekatan SETS selalu dihubungkan dengan kejadian nyata yang dijumpai siswa dalam kehidupanya (bersifat kontekstual) .

Permasalahan di atas dapat dilakukan penelitian tindakan kelas ( PTK ) sebagai alternatif dalam penyelesaian. Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki mutu praktik pembelajaran kelas.
Upaya penelitian tindakan kelas ( PTK ) diharapkan dapat menciptakan budaya belajar ( learning culture ) dikalangan guru dan peserta didik. Penelitian tindakan kelas ( PTK ) menawarkan peluang sebagai strategi pengembangan kinerja, sebab pendekatan penelitian ini menampilkan pola kerja yang kolaboratif.
Atas dasar permasalahan yang telah dikemukakan di atas peneliti mencoba menerapkan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society ) dalam pembelajaran biologi di SMA Negeri 8 ...  dengan harapan peserta didik dapat menguasai dan menerapkannya.
B. Identifikasi dan Perumusan Masalah
Latar belakang masalah diklasifikasikan sebagai permasalahan yang akan dihadapi, yaitu kurang tertariknya peserta didik kelas XII-IPA SMA Utma 2 dalam mengikuti pelajaran biologi dengan alasan membosankan dan kurang menarik, adapun permasalahannya :
1. Bagaimana penerapan pendekatan SETS pada mata pelajaran biologi materi pokok Mutasi di kelas XII-
    IPA SMA Utama 2 ?
2. Apakah penerapan pendekatan SETS pada pembelajaran Biologi materi pokok Mutasi dapat   
    meningkatkan hasil belajar siswa?

C. Penegasan Istilah

Untuk menghindari kemungkinan adanya pemahaman yang berbeda dari para pembaca maka dalam penulisan Penelitian ini perlu dikemukakan arti dari istilah kata-kata yang menjadi judul penelitian ini :

1. Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society ) Kata SETS (Science, Environment, Technology, and Society) dapat dimaknakan sebagai sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, merupakan satu kesatuan yang dalam konsep pendidikan mempunyai implementasi agar anak didik mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking).  PTK  biologi sma lengkap Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran sains. Contoh ptk biologi dengan  Pendekatan ini dapat menghubungkan konsep sains yang sedang dipelajari siswa dengan lingkungan, tekhnologi dan masyarakat.

2. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Penguasaan hasil belajar oleh siswa dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah nilai yang diperoleh melalui tes.

3. Biologi adalah Ilmu yang mempelajari keadaan dan sifat makhluk hidup.

4. Materi pokok Mutasi merupakan salah satu materi dari pelajaran biologi yang diberikan pada kelas XII-IPA tingkat SMU/MA. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

D. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut :
1. Secara teoritis
Adanya penelitian ini, penulis dapat mengetahui penerapan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) khususnya pembelajaran biologi di kelas XII-IPA SMA Utama 2

2. Secara praktis
a. Bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami pembahasan materi pokok ekskresi pada manusia di kaitkan dengan kejadian di sekitar siswa yang di hubungkan dengan aspek SETS.
b. Bagi Guru
Penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar khususya pelajaran biologi dalam menggunakan pendekatan SETS sebagai pendekatan yang tepat untuk menyampaikan materi pokok ekskresi pada manusia ataupun materi lainnya yang relevan dalam rangka mewujudkan pelajaran yang berkualitas dan sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah.
c. Bagi Sekolah
Penelitian ini dapat memberikan masukan yang baik bagi pihak sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa sekaligus kualitas pendidikan dari sekolah tersebut.
d. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menambah pengalaman baru yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar di masa mendatang.






BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A.LANDASAN TEORI
Mutu  Pendidikan  indonesia  perlu ditingkatkan  salah   satunya   dengan  memperbaiki  kurikulum,  sarana
pendidikan,  serta  pengelolaan  dan pendayagunan  laboratorium.  Selain  itu dalam  proses  belajar  mengajar  yang mencakup  cara  mengajar,  metode  serta pendekatan  yang  digunakan. (Wahdah, Muris, & Arsyad, 2017). 
Biologi  adalah  bidang  ilmu  yang mempelajari  alam  dan  gejalanya,  dari yang bersifat  nyata sampai  yang bersifat abstrak.  Belajar   fisika  dapat  membantu peserta  didik  memahami  alam  sekitar dengan penyelidikan. (Amalia, Indrawati,
Pendekatan Science, Environment, Technology, Society (SETS) yang dalam Pendidikan di Indonesia lebih dikenal sebagai pendekatan “Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat (Salingtemas)”. Definisi SETS menurut the NSTA Position Statement 1990 (dalam Kuswati, 2004:11) adalah memusatkan permasalahan dari dunia nyata yang memiliki komponen Sains dan Teknologi dari perspektif siswa, yang di dalamnya terdapat konsep-konsep dan proses, selanjutnya siswa diajak untuk menginvestigasi, menganalisis, dan menerapkan konsep dan proses itu pada situasi yang nyata. Pendekatan SETS/ Salingtemas diambil dari konsep pendidikan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat, Pendidikan Lingkungan (Environmental Education/EE), dan STL (Science, Technology, Literacy). Dalam pendekatan Salingtemas atau SETS (Science, Environmental, Technology and Society) konsep pendidikan STM atau STL dan EE dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan (Depdiknas, 2002:5).
Dasar pendekatan ini, adalah siswa akan memiliki kemampuan memandang suatu materi dengan cara mengintegrasikan terhadap keempat unsur, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang materi sains. Urutan ringkasan pendekatan ini membawa pesan bahwa untuk menggunakan sains (S-pertama) ke bentuk teknologi (T) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat (S-kedua) diperukan pemikiran tentang berbagai implikasinya pada lingkungan (E) secara fisik maupun mental. Secara tidak langsung, hal ini menggambarkan arah pendekatan SETS yang relatif memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan manusia.
Jadi, pendidikan SETS (Science, Environment, Technology, and Society), bukan pendidikan angan-angan atau di atas kertas saja, melainkan benar-benar membahas sesuatu yang nyata yaitu, bisa dipahami, dapat dilihat dan dibahas dan bisa dipecahkan jalan keluarnya. Dengan kata lain, pendekatan ini didefinisikan sebagai belajar dan mengajar mengenai sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Ini berarti bahwa peserta didik dalam pembelajarannya selain mempelajari teori tentang sains (ilmu pengetahuan alam) mereka juga menengok kehidupan nyata mereka yang berhubungan dengan teori yang dipelajari, sehingga akan berdampak positif dalam pemahaman peserta didik. Maka, dengan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society), hasil pembelajaran diharapkan mampu memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupan sebagai manusia pribadi, anggota masyarakat, warga negara, sehingga siap untuk mengikuti pendidikan selanjutnya. Adapun teori belajar yang digunakan dalam pendekatan SETS adalah konstruktivisme, behaviorisme, cognitive development, dan social cognitive.

 Gambar 1. Skema Pembelajaran SETS Approach

Kelebihan diterapkan pendekatan SETS:
1.Siswa memiliki kemampuan memandang sesuatu secara terintegrasi dengan memperhatikan keempat unsur SETS, sehingga  dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengetahuan yang telah dimiliki.
2.Melatih siswa untuk peka terhadap masalah yang sedang berkembang di lingkungan mereka/ mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
3. Siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan sekitar atau sistem kehidupan dengan mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik.
4.Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran

Kelemahan diterapkan pendekatan SETS:
1. Siswa mengalami kesulitan dalam menghubungkan atau mengkaitkan antar unsur-unsur SETS   
       dalam pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam pembelajaran.
3. Pendekatan SETS hanya dapat diterapkan dikelas atas.
4. Bagi guru yang tidak berwawasan luas akan kesulitan kesulitan dalam mengajarkan

Pada pembelajaran menggunakan pendekatan SETS siswa diminta menghubungkan antara keempat unsur SETS, sehingga kemungkinan siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS, baik dalam bentuk kelebihan maupun kekurangannya. (Nono Sutanto,2007:30). Penerapan pendekatan SETS pada pembelajaran sains, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.Siswa diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur sains yang dibahas dalam SETS yang mempengarui berbagai keterkaitan antara unsur-unsur tersebut.
2.Siswa dibawa untuk mempertimbangkan manfaat atau kerugian menggunakan konsep sains tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi, lingkungan dan masyarakat
3.Siswa dapat diajak berpikir kontruktivisme tentang SETS dari berbagai macam arah tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan.
 Gambar 2. Keterkaitan Antar Unsur SETS Pada Pembelajaran Sains

Pembelajaran  SETS  juga  membatu peserta  didik  dalam  memanfaatkan lingkungan  sekolah  memperoleh informasi  berdasarkan  materi  yang dipelajari,  peserta  didik  memanfaatkan lingkungan  sekitar  sekolah  untuk mengamati  benda-benda  yang  ada  di sekitar  sekolah.  Kemudian  peserta  didik
memanfaatkan  masyarakat  untuk berinteraksi dalam menemukan informasi, jadi  peserta  didik  tidak  hanya  diajarkan untuk  memanfaatkan  lingkungan  untuk memperoleh  informasi  tetapi  juga memanfaatkan  masyarakat  untuk memperoleh  informasi.  Serta  peserta didik  dapat  menerapkan  teori  yang dipelajari  dengan  teknologi  yang  ada. 
Tujuan  dari Penelitian  ini  untuk melihat pengaruh  Pembelajran  SETS  (Science, Environment,  Technology,  Society) terhadap  keterampilan  proses  sains peserta didik.

B.PENGAJUAN HIPOTESIS
    Model Pembelajaran Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society )  dapat meningkatkan
     aktifitas belajar siswa pada materi MUTASI 


BAB III METODE PENELITIAN

A.Tujuan Penelitian
Supaya  peserta didik  memiliki literasi  sains  dan  teknologi  serta  peduli terhadap  masalah  masyarakat  dan lingkungan disekitarnya.(Poedjiadi, 2010)  Dalam konteks pendidikan bervisi SETS, urutan  ringkasan SETS  membawa  pesan bahwa  untuk menggunakan  sains  (S)  ke bentuk  teknologi  (T)  dalam memenuhi kebutuhan  masyarakat  (S-kedua) diperlukan  pemikiran  tentang  berbagai implikasinya pada  lingkungan (E)  secara fisik  maupun  mental.  (Fatchan  & Soekamto,  2014)  Pembelajaran  SETS terdiri  dari  lima  tahapan  yaitu  inisiasi, pengembangan  konsep,  aplikasi  konsep dan pemantapan konsep serta penilaian. 

Keunggulan dari model pembelajaran SETS  dapat  Melatih  peserta  didik melakukan metode kerja ilmiah. Sehingga peserta  didik  mampu  membuat  karya ilmiah  yang  tertata  dan  terorganisasi dengan  baik.  Meningkatkan  kemampuan peserta  didik  dalam  berkomunikasi. Membuat  pembelajaran  menjadi
menyenangkan.  Membantu  peserta  didik mengenal  dan  memahami  sains  dan teknologi serta dampak negatif yang bisa ditimbulkan  dalam  kehidupan  sehari-hari.(Wahdah et al., 2017) 
Keterampilan proses sains merupakan proses mencari  dan menemukan,  dimana proses  pembelajaran  dilakukan  dengan memberikan  pengalaman  langsung  pada peserta  didik  dengan  langkah-langkah
kerja  ilmiah  sesuai  dengan  yang dilakukan para ilmuwan. (Jufri, 2013)   Pembelajaran  IPA  diperlukan penyelidikan,  secara  observasi  maupun eksperimen,  sebagai  kerja  ilmiah  yang melibatkan  keterampilan  proses  sikap ilmiah. Melalui kerja ilmiah, peserta didik dapat  memanfaatkan  fakta,  membangun konsep, prinsip, teori sebagai dasar untuk berpikir  kreatif,  kritis,  analitis,  dan divergen.  Metode  praktikum  yang digunakan  dalam  pembelajaran    dengan mengaplikasikan  keterampilan  proses
sains   dapat  membuat  siswa terlatih  dan menjadi  terampil  dalam  mengemukakan dan  mengembangkan  teori  dan  konsep yang dipelajari.(Ria, 2014).  Indikator  keterampilan  proses  sains terdiri  dari  keterampilan  proses  dasar yaitu(Jufri, 2013): mengamati, mengukur, memprediksi,  mengelompokkan,
menginferensi, dan mengkomunikasikan.                                                                     

B. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian dilakukan pada waktu pembelajaran materi mutasi disemester genap yang bertempat di SMA UTAMA 2 kelas XII IPA

C.Subyek penelitian
Yang menjadi subyek penelitian adalah peserta didik kelas XII IPA 1 dan 2 

D.Kolaborator

E.Jadwal
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada waktu pembelajaran dilakukan disemester genap pada kelas XII IPA 1 dan IPA 2 yang dilakukan pada hari yang sama tetapi waktu yang berlainan.

F.Tehnik Pengumpulan Data
Penggumpulan data dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan kepada peserta didik yang berupa essai pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.

G.Metode Penelitian
Penelitian  ini  menggunakan  penelitian Quasi  Experimental  dengan  desain randomized control group only pascatest design.  pada  penelitian  ini  terdapat  dua variabel  yaitu  variabel  terikatnya  adalah
keterampilan  proses  sains  dan  Variabel Bebas  Model  pemebelajaran  SETS (Science,  Environment,  Technology, Society).  Penelitian dilaksanakan di SMA Utama  2  Bandar  Lampung semester  genap  tahun  ajaran  2017/2018.  Populasi  pada  penelitian  ini  adalah seluruh peserta  didik pada  kelas XII  IPA yang  berjumlah  138  yang  terdiri  dari  2 kelas.  Sampel pada  penelitian  ini terdiri dari  1  kelas  yang  berjumlah  23  peserta didik sebagai kelas eksperimen,  yaitu  kelas  XII  IPA  1  yang berjumlah 27 peserta didik sebagai kelas kontrol. Teknik  pengambilan  sampel  yang digunakan  pada  penelitian  ini  adalah cluster  sampling  (Sugiyono,  2016). Instrumen  penelitian  di  artikan  sebagai alat  ukur  dalam  penelitian  untuk menjawab  pertanyaan-pertanyaan  dan menguji  hipotesis  penelitian.  Jenis instrumen dalam penelitian ini berupa tes essay,  dimana  tiap  soal  mengukur indikator keterampilan  proses sains  yang berbeda.  Sebelum  Soal  digunakan  untuk penelitian  terlebih dahulu  diuji  validitas, reliabilitas,  daya  beda  dan  tingkat kesukaran.  Analisis  data  untuk  menguji normalitas, homogenitas dan hipotesis. 

Untuk menguji hipotesis mengunakan uji  t. Uji  hipotesis  ini  dilakukan  dengan menggunakan  rumus  polled  varians sebagai berikut: (Sugiyono, 2014)

Keterangan: 
X1: Nilai rata-rata post test dari kelas  eksperimen
X2: Nilai rata-rata post test dari kelas kontrol
n1: Jumlah sampel kelas eksperimen
n2: Jumlah sampel kelas control
S1: varians dari kelas eksperimen
S2: varians dari kelas kontrol 
Kriteria Uji :
Setelah  dilakukan  penghitungan sesuai  dengan  rumus,  maka  pengujian dengan melihat perbandingan antara thitung dan  ttabel  di mana  ttabel  =  t(n1+n2-1)  dengan taraf signifikan α = 0,05.

Kesimpulan :
Jika  thitung  ≤  ttabel    maka  H0  diterima. Teknik  Analisis  Data  Keterampilan Proses Sains 
Instrumen keterampilan proses sains yang  kedua  berupa  lembar  observasi keterampilan  proses  sains. Dalam  teknik analisis  lembar  observasi  yang  akan dinilai  adalah  aspek  dari  keterampilan proses sains dengan skala  likert. Adapun tahapan analisisnya adalah:   
1. Menjumlahkan  indikator  dari  aspek KPS yang diamati.
2. Analisis  data  hasil  penilaian  lembar observasi  keterampilan  proses  sains mengunakan  skala  likert  dengan persamaan sebagai berikut : 

%KPS =   Skor yang diperoleh x 100
                         Skor maksimal
Tabel 1. Kriteria Interpretasi Skor
Presentase                          Keterangan
81-100                              Sangat Baik
61-80                                Baik
41-60                                Cukup
21-40                                Kurang
0-20                                    Sangat Kurang






























BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Deskripsi Situasi dan kondisi tempat
Penelitian dilakukan di SMA utama 2 BandarLampung yang melibatkan 2 kelas XII IPA yang pelaksaannya dilakukan dikelas masing-masing dengan penerapan yang berbeda.

B.Data hasil penelitian
Data-data  hasil  penelitian  berupa hasil  lembar  observasi  keterampilan proses  sains  dan  tes  berupa  uraian sebanyak 10 soal.

Tabel 2. Hasil Pretest dan posttest  kelas kontrol dan kelas eksperimen
Kelas                   Pretest              Posttest               N-gain
Kontrol                39,94                62,56                   0,37
Eksperimen          40,96               81,54                   0,68
   
C.Pembahasan
Berdasarkan tabel diatas  menunju  kan bahwa nilai rata-rata Postest kelas kontrol lebih  rendah  diandingkan  kelas eksperimen. Hal ini menunjukan hasil N-Gain Kelas Kontrol lebih kecil dibanding
N-Gain  Kelas  eksperimen. Maka dapat  disimpulkan   bahwa pem belajaran  dengan  mengunakan  model
pembelajaran SETS (Sains, Environment, Technology,  and Society) yang  diberikan dikelas eksperimen mampu meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik.  Observasi  dilaksanakan  pada  saat
pembelajaran  berlangsung  dengan diadakannya praktikum. Hal yang diamati berupa  indikator  indikator  pada keterampilan  proses  sains  peserta  didik saat  pembelajaran berlangsung,  Berikut ini  hasil  lembar  observasi  keterampilan proses sains.

Gambar 1. Diagram hasil observasi keterampilan proses sains

1. Uji Normalitas 
Uji  normalitas  digunakan  untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak.  Untuk  menguji  normalitas  pada penelitian  ini  mengunakan  uji  liliefors (dengan  taraf  signifikan  α  =  0,005) dengan  mengunakan  aplikasi  microsoft excel. Data terdistribusi normal jika nilai signifikan > 0,05. Jika nilai signifikan  < 0,05 maka data tidak terdistribusi normal. Hasil  uji  normalitas  yang  digunakan  uji
liliefors,  menunjukan  data  terdistribusi normal.

68,59         70,42          68,59          65,85          68,59              69,20
81,09         72,25          71,33          70,42          73,78              78,96
0.00%       10.00%        20.00%      30.00%       40.00%           50.00%
60.00%     70.00%        80.00%      90.00%       100.00%
Persentase Kontrol                           Persentase Eksperimen

Tabel 3. Hasil uji Normalitas pada kelas kontrol dan kelas eksperimen
Data                                           LTabel                   Lhitung                     Kesimpulan
Kelas Eksperimen         Pretest   0,142 
                                                       N = 39                0,108                         Lhitung <  Ltabel Data terdistribusi
                                                                                                                     normal
                                       Posttest                                0,135
                                       Per. I                                    0,134
                                       Per.II                                    0,133
Kelas Kontrol                 Pretest     0,138
                                                       N = 41                  0,112
                                        Posttest                                0,127
                                        Per. I                                    128
                                        Per.II                                    124

Berdasarkan  tabel  hasil  uji  normalitas kelas  eksperimen  dan  kontrol  dengan pretest,  posttest  dan  Lembar  Observasi dengan  taraf  signifikan  0,05.  Hasil  uji normalitas  Pada  kelas  eksperimen  di
peroleh nilai Lhitung   <  Ltabel, sehingga H0 diterima  pada  data  kelas  eksperimen terdistribusi  normal  dan  hasil  uji normalitas  kelas  kontrol  diperoleh  nilai Lhitung    <   Ltabel sehingga  data pada kelas
kontrol  terdistribusi  normal.  Sehingga data  keterampilan  proses  sains terdistribusi Normal. 


2. Uji Homogenitas 
Uji  homogenitas  pada  penelitian  ini mengunakan Uji homogenitas dua varians dengan  taraf  signifikan  α  =  0,005 digunakan  untuk  menguji  apakah  kedua data  tersebut  homogen.  Dan  apakah sampel  yang  digunakan  memiliki  varian yang  sama  atau  tidak.  Adapun  kriteria penerimaan  data  homogen  adalah  jika Fhitung <  Ftabel  ,  H0  diterima maka  sampel homogen  dan  jika  Fhitung  >  Ftabel    maka
sampel  tidak homogen.  Berikut hasil  uji homogenitas disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas Kelas Eksperimen dan Kontrol
Data                                      FTabel                               Fhitung                    Kesimpulan
Pretest                                   1,7012                               0,9984                    Fhitung < Ftabel data dinyatakan
                                                                                                                        homogen H1 diterima.
Posttest                                                                            0,7191
Per. I                                                                                0,8318
Per.II                                                                                0,9873

Hasil  uji  homogenitas  pada  kelas kontrol  dan  kelas  eksperimen  memiliki Fhitung < Ftabel sehingga dapat disimpulkan bahwa  H1  diterima  artinya  populasi tersebut  memiliki  varians  yang  sama.
Setelah  diketahui  data  memiliki  varians yang sama maka dapat dilanjutkan dengan mengunakan statistik  parametik yaitu  uji t.   

3. Hasil pengujian hipotesis
Berdasarkan  data  yang  telah  di  uji normalitas  dan  homogenitas  kemudian data  dinyatakan  normal  dan  homogen, maka  dilanjutkan  dengan  pengujian hipotesis  dengan  mengunakan  statistika
parametris yaitu uji-t. Pengujian hipotesis dilakukan  untuk  mengetahui  adakah pengaruh  perlakuan  dengan mengunakan model  pembelajaran  SETS  (Sains, Environment,  Technology,  and  Society)
terhadap ketrampilan proses sains peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol.  Adapun  kriteria  penerimaan  data terdapat  perbedaan  atau  tidak  adalah sebagai berikut :
Jika  thitung  ≤  ttabel   maka  H0  diterima, H1 ditolak. 
Jika thitung    > ttabel   maka  H1 diterima,  H0 ditolak.
Berikut hasil uji hipotesis  yang disajikan
pada tabel5.

 Tabel 5. Hasil uji hipotesis Keterampilan proses sains
Data                                          Thitung                     tTabel                    Kesimpulan
Tes                                            11,1223                     1,9908                  Thitung > Ttabel maka H1 Diterima. 
Observasi                                  11,0396                     1,9908

Berdasarkan  uji  t dari  kelas  kontrol dan  kelas  eksperimen  berupa  tes  dan observasi  maka  didapat  hasil  hipotesis dengan  taraf  signifikan  0,05  diperoleh thitung  lebin  besar  daripada ttabel  sehingga
thitung  > ttabel.  Maka H1  diterima.  Dengan demikian  dapat  disimpulkan  bahwa terdapat  pengaruh  model  Pembelajaran SETS (Science, Environment, Technology and Society) terhadap keterampilan proses
sains. Pembelajaran  SETS    mengaitkan empat  unsur  yaitu  sains,  Lingkungan, Teknologi  dan  Masyarakat.  Sehingga dengan  keempat  unsur  tersebut  dapat meningkatkan  keterampilan  proses  sains
peserta didik. Pada masing masing unsur SETS  terdapat  hubungan  terhdap Keterampilan  proses sains  peserta  didik. Seperti Science pada indikator mengukur, Environment  dengan  Mengamati  dan
Mengelompokkan,  Technology  pada indikator  memprediksi  dan  pada  unsur Society indikator mengkomunikasi. Berdasarkan  hasil  Penelitian  Nofia nur  miftiana,  andari  puji  astuti,  fitria faticatul  hidaya  bahwa  model pembelajaran  SETS  dapat  mengarahkan pola  sikap  peserta  didik  dalam
bersosialisasi  dan  meningkatkan  daya pikir  terutama  pada  ilmu  kimia  yang diterapkan  dalam  kehidupan  sehari-hari.(Miftianah,  Astuti;,  &  Hidayah, 2015).
Observasi  yang  dilakukan  pada penelitian  ini  diaukan untuk  mengetahui keterampilan  proses  sains  peserta  didik mengunakan  model  pembelajaran  SETS pada materi usaha dan energi. Data  yang
di dapat pada hasil observasi keterampilan proses  sains  memperlihatkan  indikator mengamati  terletak  pada  hasil  yang tertinggi  sebesar  81,09%  pada  kelas eksperimen,  Namun  pada  kelas  kontrol
indikator  mengukur  dengan  hasil  70,42 %.

Hasil  keterampilan  proses  sains
peserta  didik  yang  memiliki  kriteria sangat  baik  yaitu  pada  indikator mengamati  dan  menginterpretasi  data dengan  masing  masing  persentase  yaitu  81,09%  dan  78,96%.    Kemudian  indikator  keterampilan  proses  sains memiliki  kriteria  baik  yaitu  Mengamati dan Mengkomunikasi. Setelah  diterapkan  model
pembelajaran  SETS    dapat  meningatkan keterampilan  proses  sains  peserta  didik terlihat  pada  masing  masing  indikator mendapat nilai yang tinggi.  Namun pada indikator  mengiteferensi  terendah karena
mayoritas  peserta  didik  belum  mampu mengemukan  pendapat  dengan menyatakan  sesuatu  berdasarkan  hasil dari  pengamatan  sehingga  peserta  didik mendapatkan  angka  yang  rendah  pada
indikator ini. Penerapkan  pembelajaran  SETS  didapatkan  hasil  observasi  penguasaan pemahaman   peserta  didik lebih  baik  dibandingkan  dengan pembelajaran konvensional. Ditinjau  dari hasil    persentase  observasi  pada  setiap pertemuan  meningkat.  Pembelajaran SETS  dapat  melatih  peserta  didik  untuk menguasai  keterampilan  proses,  karena langkah langkah pada pembelajaran SETS cocok meningkatkan keterampilan proses sains peseta didik.

Pengujian hipotesis menggunakn uji-t terhadap  hasil  tes  dan  observasi keterampilan  proses  sains  kelas
eksperimen dan  kelas kontrol.  Pengujian ini  dilakukan  secara  manual  dengan mengunakn  microsoft  excel.  pengaruh model  Pembelajaran  SETS  (Science, Environment,  Technology  and  Society)
terhadap keterampilan proses sains. Kelas eksperimen  lebih  unggul  dibanding dengan kelas kontrol. Hal ini disebabkan pada  kelas  eksperimen digunakan  model pembelajarn  SETS  dimana peserta  didik dapat  menentukan  sendiri  permasalahan  yang  akan  dipelajari  dan  memecahakan masalah tersebut dengan melibatkan sosial, teknologi  dan  lingkungan.  Hal  ini  akan meningkatkan  keterampilan  proses  sains peserta didik Hasil penelitian zalfa ameliya terdapat perbedaan  yang  signifikan  antara  kelas yang  menggunakan  pembelajaran  SETS dan pada  kelas yang  tidak menggunakan SETS dapat dilihat dengan hasil uji t yaitu thitung = 7,225 dengan taraf signifikan 5%  ttabel 2. (Kiky,2017)

Metode  pembelajaran  yang digunakan  pada  kelas  kontrol  yaitu ceramah  dan  diskusi.  Dalam  interaksi
pembelajaran sangat berpusat kepada guru sehingga  belum  bisa  mengoptimalkan pembelajaran  dan  belum  bisa mengaktifkan peserta didik. Peserta didik masih  bergantung  pada  penjelasan  guru sehingga  kemampuan  dan  wawasan peserta  didik  masih  minim.  Selain  itu sumber  data  atau  kajian  pustaka  yang digunanakan  pada  kelas  kontrol  hanya bersumber  dari  buku cetak  dan  internet, sehingga  materi  yang  mereka  dapatkan terbatas. Hal ini berimbas  pada kesulitan peserta  didik  dalam  penguasaan
memecahan  masalah  karena  kurang memahami  situasi dan  kondisi  yang ada dilapangan.
Persentase  lembar  observasi  pada pertemuan  pertama  dan  kedua  terdapat peningkatan  penguasaan  pada pembelajaran tentang mutasi  pada kelas  yang diterapkan pembelajaran  SETS.  Hal  ini  diperkuat dengan  hasil  persentase  dari  dua pertemuan. Karena  keempat unsur  SETS dapat  memengaruhi  penguasaan  keterampilan proses peserta didik. Hasil penelitian dalam pemebelajaran SETS  peserta didik  diajak  untuk  belajar dari  pemasalahan   dalam dunia  nyata,  sehingga  dapat meningkatkan  pemahaman peserta didik. Dengan demikian hipotesis diterima,    sehingga  dapat  disimpulkan terdapat  pengaruh  model  pembelajaran SETS  dalam meningkatkan  keaktifan peserta didik pada pembelajaran materi mutasi..




















BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan 
Berdasarkan  landasan  teori,  analisis data, perhitungan uji-t dan mengacu pada rumusan masalah diketahui bahwa peserta didik  yang  menggunakan  model pembelajaran  (Science,  Environment, Technology  and  Society)  Hasil  analisis menunjukan  thitung  =  11,1223  sedangkan ttabel  =  1,9908  dengan  taraf  signifikan 0,05% sehingga thitung > ttabel. H1 diterima,. terdapat  pengaruh  model  Pembelajaran SETS (Science, Environment, Technology and Society) terhadap peningkatan belajar mutasi.  Dapat  simpulkan  bahwa  terdapat pengaruh  model  pembelajaran  SETS dalam meningkatkan keaktifan peserta didik pada materi mutasi kelas XII IPA.

B.Saran
Untuk meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran biologi perlu kiranya diterapkan pada materi lainya yang dianggap sulit bagi peserta didik.
















































DAFTAR PUSTAKA
Amalia,  M.  R.,  Indrawati,  &  Subiki. (2017).  Model  GI-GI  (Group Investigation-Guided Inquiry) Dalam Pembelajaran Gerak Lurus  Di SMA Negeri  Rambipuji  (Studi  pada Aktivitas  Belajar  Siswa,  Efektivitas Pembelajaran,  dan  Hasil  Belajar Siswa). Jurnal Pembelajaran Fisika, 6(1).
Atminiati,  E.,  &  Binadja,  A.  (2017). Keefektifan  Pembelajaran  Guided Note  Taking  Bervisi Sets  Bermedia Chemo  Edutainment  Dalam Meningkatkan, 11(2).
Fatchan,  A.,  &  Soekamto,  H.  (2014). Pengaruh  Model  Pembelajaran Science , Environment , Technology ,  Society  (  SETS  )  Terhadap Kemampuan  Berkomunikasi  Secara Tertulis  Berupa  Penulisan  Karya Ilmiah bidang  geografi siswa  SMA. Jurnal  Pendidikan  Dan Pembelajaran, 21.
Jufri,  W.  (2013).  Belajar  dan Pembelajaran  Sains.  Bandung: Pustaka Reka Cipta. Miftianah,  N.  N.,  Astuti;,  A.  P.,  &
Hidayah,  F.  F.  (2015).  Analisis Keterampilan  Proses  Kritis  Siswa Melalui Pembelajaran SETS Kelas X
Pada  Materi  Larutan  Elektrolit  dan NonElektrolit.  Seminar  Nasional Pendidikan,  Sains  Dan  Teknologi
Fakultas  Matematika  Dan  Ilmu Pengetahuan  Alam  Universitas \Muhammadiyah Semarang.
Poedjiadi,  A.  (2010).  Sains  Teknologi Masyarakat.  Bandung:  Remaja Rosdakarya. Sugiyono.  (2014).  Metode  Penliian Kuantitatif  Kualikatif  dan  R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono.  (2016).  Metode  Penelitian Kuantitatif,  Kualitatif  dan  R&D. Bandung: Al. Wahdah,  Muris,  &  Arsyad,  N.  (2017). Implementasi  Stategi  Pembelajaran Aktif  Dalam  Meningkatkan Kemampuan  Menyelesaikan Masalah  Fisika  Pada  Siswa  Kelas VIII SMP Negeri 1 Sinjai Kabupaten Sinjai.  Jurnal  Pendidikan  Fisika Universitas  Muhammadiyah Makassar, 5. Wisudawati,  A.  W.,  &  Sulistyowati,  E.
(2017).  Metodologi  Pembelajaran IPA. Jakarta: Bumi Aksara




































































































































































Program Ekskul Seni Budaya

PROGRAM
EKSTRAKULIKULER
SENI







SMA UTAMA 2
BANDAR LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan Taufik dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Program Kerja Kegiatan Ekstrakurikuler Seni di SMA UTAMA 2 Bandar Lampung.
 Sebelumnya perlu disampaikan juga bahwa kegiatan ini sebagai wahana pembinaan bakat melalui proses kegiatan ekstrakurikuler Seni yang lebih memantapkan keterampilan dan untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.
Kami harap dari kegiatan ini dapat memberikan satu inspirasi baru bagi kreatifitas dalam melakukan aktifitas di bidang seni khusunya bagi siswa dan siswi yang dengan keras melaksanakan latihan.
 Mudah-mudahan program kerja ekstrakulikuler seni ini dapat membantu kami dalam membimbing dan mengarahkan siswa dan siswi yang kami cintai, dan semoga bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya.

Bandar Lampung ,  Juli 2020


 Penyusun




BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban manusia. Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, professional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan Nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriot dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiawakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para Pahlawan serta berorientasi masa depan.

 Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan kegiatan-kegiatan melalui jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Pada jalur sekolah selain dilakukan kegiatan kurikuler, juga dilakukan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan untuk lebih memantapkan bakat dan keterampilan dan untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. Jalur luar sekolah tersebut antara lain keterampilan seni yang pelaksanaannya dilakukan oleh sekolah.

Kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di sekolah. Seni merupakan bentuk kegiatan yang mengembangkan pengetahuan kemampuan penalaran siswa dan ketrampilan. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka agar kegiatan seni benar-benar dapat dilaksanakan sebaik-baiknya dan dapat menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional, maka perlu pembinaan kegiatan ekstrakurikuler di Bidang Seni. Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat salah satu mata pelajaran yaitu Seni Budaya dan Keterampilan yang sangat diperlukan karena didalamnya terdapat penanaman akan nilai edukasi dan estetika yang berakar pada tradisi seni budaya. Salah satu tujuan Seni Budaya dan Keterampilan adalah menggali kemampuan, bakat dan minat siswa dalam berolah seni dan rasa, baik rasa musikal, peran, gerak maupun rupa.

 Tidak seimbangnya kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dengan alokasi waktu yang tersedia, maka diperlukan waktu ekstra diluar jam pelajaran sebagai sarana pengembangan dari kemampuan yang harus dimiliki, yaitu kegiatan ekstrakulikuler. Dalam rangka pengembangan kemampuan dan menggali potensi siswa dalam mengolah rasa, maka SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG perlu mengadakan kegiatan ekstrakurikuler salah satu cabang seni tari. Kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk seni selain untuk media latihan kesehatan melalui olah tubuh juga merupakan sarana bagi para siswa untuk dapat mengembangkan potensi, bakat dan minat yang dimilikinya, sehingga menjadi manusia yang sehat dan berprestasi, baik secara individual maupun kolektif.


B. Tujuan
Tujuan Pembinaan kegiatan Ekstrakurikuler di bidang seni di SMA UTAMA 2 Bandar Lampung adalah untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, khususnya di bidang pembinaan bakat dan minat dibidang seni yang berkembang di masyarakat serta untuk membentuk siswa- siswa yang sehat, baik jasmani, jiwa dan pikirannya, sehingga menjadi manusia yang betul- betul siap dan berprestasi dalam menjalani kehidupannya baik di lingkungan akademis ataupun di masyarakat.

C. Target
Target yang ingin dicapai dalam pelaksanaan erkstrakurikuler seni yang dilaksanakan di SMA UTAMA 2 Bandar Lampung diantaranya adalah :
1. Melatih anak didik agar mampu mengembangkan dan membina potensi, minat, bakat yang dimilikinya dalam bidang seni, sehingga mampu berprestasi secara positif dalam berbagai cabang seni sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
2. Membangkitkan rasa kepercayaan diri para siswa untuk selalu hidup sebagai manusia yang sehat, sehingga dengan demikian akan lahir dorongan untuk menjauhi hal-hal yang merusak kesehatannya termasuk Narkoba .
3. Menciptakan sikap sportifitas pada siswa
4. Menciptakan lingkungan yang sehat dan kondusif bagi perkembangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan pengajaran di sekolah.
5. Kompetisi yang memuat cabang-cabang seni dimaksudkan untuk melatih siswa dalam menumbuhkembangkan sikap sportif dalam pergaulan dan dari sudut pandang prestasi akan mendorong siswa untuk lebih memperbaiki dan meningkatkan dirinya di bidang seni.
6. Memperhalus rasa yang ada pada siswa agar mampu mengapresiasi dan mengekspresikan nilai-nilai seni yang ada pada dirinya.
7. Mengenalkan dan menanamkan rasa cinta siswa terhadap seni
8. Sebagai sarana dan wadah untuk menggali ekspresi, potensi bakat dan minat siswa dalam berolah seni.

D. Waktu dan Tempat Kegiatan
1. Waktu latihan
Dilaksanakan setiap hari Senin pukul 15.30-17.00 WIB dan Kamis pukul 15.30-17.00 WIB
2. Tempat kegiatan
Ruang Keterampilan/Lap Musik dan Aula


BAB II
PENGORGANISASIAN

Untuk memperlancar kegiatan ekstrakurikuler seni, maka dibentuklah susunan kepengurusan, diantaranya adalah sebagai berikut :
A. Penanggung Jawab : Drs. Suyitno, M.Pd (Kepala Sekolah)
B. Koordinator : Lailatun Hermaini K, S.Sos     
C. Ketua : Anisa Martiah, M.Pd.E
D. Bendahara : Lilik Supriyanto, S.Pd
E. Seksi Pelaksana :
1. Seni Rupa
2. Seni Tari
3. Seni musik
4. Seni vokal / Paduan suara










BAB III
PELAKSANAAN EKSTRAKURIKULER SENI

A. BENTUK KEGIATAN 
1. Seni Rupa
Mengenal Seni Rupa
Membuat kostum dari barang bekas
Memperaga kan kostum barang bekas
2. Seni Tari
Pengenalan seni tari
Tekhnik membuat pola lantai
Latihan gerak dasar tari
Praktek tari tradisional
3. Seni Musik
Pengenalan alat musik
Cara memainkan alat musik
Cara memainkan alat perkusi
        4. Seni Vokal
Membentuk group vokal
Menyanyikan Lagu dengan paduan suara
5.  Seni Drama
Mengenal Seni drama
Memilih teks drama ( naskah )
Memilih sutradara
Calon pemain membaca keseluruhan naskah
Melakukan pemilihan pemeran
Peragakan pertunjukan drama

B. PROGRAM SEMESTER EKSTRAKULIKULER SENI
Semester 1
No Kegiatan Bulan Ket

7 8 9 10 11 12
1 Seni Rupa
  Mengenal Seni Rupa
Membuat kostum dari barang bekas
Memperaga kan kostum barang bekas

x
x


x

x





x
x







x
x










x
x













x

2 Seni Tari
Pengenalan seni tari
Tekhnik membuat pola lantai
Latihan gerak dasar tari
Praktek tari tradisional







x
x


x
x




x





x







x

x










x
3 Seni Musik
Pengenalan alat musik
Cara memainkan alat musik
Cara memainkan alat perkusi

x
x



x
x




x

x









x
x










x











x
4 Seni vokal
Membentuk group vokal
Menyanyikan Lagu dengan paduan suara

x


x



x





x






x








x
5     Seni Drama
Mengenal Seni drama
Memilih teks drama ( naskah )
Memilih sutradara
Calon pemain membaca keseluruhan naskah
Melakukan pemilihan pemeran
Peragakan pertunjukan drama

7 Seni Tari Melayu Kreasi
Pengenalan terhadap seni tari melayu
Pengenalan pola tarian
Latihan pola lingkar
Latihan pola vertikal
Latihan pola horizontal
Latihan pola diagonal
Latihan pola melingkar
Gerak dasar tari
Teknik gerakan
Koreografi tari kreasi melayu
Teknik pementasan
x

x



x
x





x
x







x
x










x
x











x
8 Pantonim
Konsep dan ide gagasan pantonim
Gerak dan harmonisasi pantonim
Cara Ekspresi dan imajinasi
Mimik wajah
Mack up dan kostum yang digunakan
Latihan tampil di depan pentas
x


x




x





x






x








x
9 Solo
Pengenalan nada-nada dasar dalam bernyanyi
Olah vokal (materi suara) kualitas, keindahan dan karakter vokal
Teknik intonasi, diksi
Teknik artikulasi, pengkalimatan
Harmonisasi, balance/keseimbangan suara dengan musik pengiring
Pembawaan (ekspresi dan interprestasi)
Penafsiran tempo dan dinamik serta karakteristik lagu
Penjiwaan, imajinasi dan pengungkapan lagu
Penampilan menguasai panggung
Sikap profesional dan artisty, keindahan dan keserasian dalam bunyi, gerak dan segi visualnya

X

X





X
X








X


X













X

X

















X





















X













Semester 2
No Kegiatan Bulan Ket

1 2 3 4 5 6
1 Seni Rupa
  Mengenal Seni Rupa
Membuat kostum dari barang bekas
Memperaga kan kostum barang bekas
x
x


x

x





x
x







x
x










x
x













x

2 Seni Tari
Pengenalan seni tari
Tekhnik membuat pola lantai
Latihan gerak dasar tari
Praktek tari tradisional



x
x


x
x




x





x







x

x










x
3 Seni Musik
Pengenalan alat musik
Cara memainkan alat musik
Cara memainkan alat perkusi

x
x



x
x




x

x









x
x










x











x
4 4. Seni Vokal
Membentuk group vokal
Menyanyikan Lagu dengan paduan suara
x


x



x





x






x








x
5 Seni Drama
Mengenal Seni drama
Memilih teks drama ( naskah )
Memilih sutradara
x

x




x





x






x









x
6 Gambar bercerita
Pengenalan teknik cara melakukan gambar bercerita
Pengenalan bahan yang  digunakan dalam menggambar
Melatih membuat gambar yang sesuai tema
Melatih kemampuan mengakpresiasikan gambar ke cerita



x
x


x





x





x







x
7 Seni Tari Melayu Kreasi
Pengenalan terhadap seni tari melayu
Pengenalan pola tarian
Latihan pola lingkar
Latihan pola vertikal
Latihan pola horizontal
Latihan pola diagonal
Latihan pola melingkar
Gerak dasar tari
Teknik gerakan
Koreografi tari kreasi melayu
Teknik pementasan
x

x



x
x





x
x







x
x










x
x











x
8 Pantonim
Konsep dan ide gagasan pantonim
Gerak dan harmonisasi pantonim
Cara Ekspresi dan imajinasi
Mimik wajah
Mack up dan kostum yang digunakan
Latihan tampil di depan penta
X

x



x





x






x





X



BAB IV
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler seni semua potensi, bakat dan minat yang dimiliki oleh beberapa siswa di bidang seni dapat tergali dan tersalurkan. Sehingga dari kegiatan tersebut betul-betul akan menghasilkan kemampuan di bidang seni yang dapat diandalkan dalam berbagai kegiatan, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

B. Saran
Demi menunjang keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler seni agar dapat terlaksana sesuai dengan apa yang kita harapkan, perlua adanya kelengkapan alat/sarana berupa alat-alat seni yang menunjang dalam kegiatan Ekstrakurikuler seni, diantaranya kertas karton, kuas lukis, canting, tinta batik, perlengkapan membatik, gitar, ruangan musik,  dan peralatan lain yang menunjang proses ekstrakulikuler. Dan pada akhirnya saya selaku Pembina Ekstra seni mengharapkan kepada pihak Sekolah kiranya untuk melengkapi sarana/alat – alat yang dibutuhkan.

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PROGRAM EKSTRAKULIKULER SENI
SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG





Bandar Lampung,   Juli 2020
Mengetahui,
Pembina Tari 1     Kepala Sekolah


Anisa Martiah, M.Pd.E      Drs. Suyitno, M.Pd


PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM


Kurikulum memiliki dua sisi yang sama penting, yaitu kurikulum sebagai dokumen dan kurikulum sebagai implementasi. Sebagai sebuah dokumen kurikulum berfungsi sebagai pedoman bagi guru dan kurikulum sebagai implementasi merupakan realisasi dari dokumen dalam bentuk kegiatan pembelajaran di kelas. Keduanya merupakan dua hal yang tak terpisahkan, ada kurikulum berarti ada pembelajaran, dan sebaliknya ada pembelajaran ada kurikulum.
Implementasi kurikulum memerlukan seseorang yang berperan sebagai pelaksananya. Guru merupakan faktor penting dalam implementasi kurikulum karena ia merupakan pelaksana kurikulum. Karena itu guru dituntut memiliki kemampuan untuk mengimplemntasikan, tanpa itu Kurikulum tidak akan bermakna sebagai alat pendidikan, dan sebaliknya pembelajaran tidak akan efektif tanpa kurikulum sebagai pedoman. Dengan demikian guru menempati posisi kunci dalam implementasi kurikulum.

Selanjutnya dalam proses pengembangan kurikulum peran guru lebih banyak dalam tataran kelas. Murray Print (1993) mengemukakan peran guru dalam tingkatan tersebut sebagai berikut :

1.Implementer

Sebagai implementer, guru berperan untuk mengaplikasikan kurikulum yang sudah ada. Di sini guru hanya menerima berbagai kebijakan perumus kurikulum. Guru tidak memiliki kesempatan baik untuk menentukan isi kurikulum maupun menentukan target kurikulum. Peran guru hanya sebatas menjalankan kurikulum yang telah disusun. Peran ini pernah dilaksanakan di Indonesia yaitu sebelum reformasi, yaitu guru sebagai implementator kebijakan kurikulum yang disusun secara terpusat, dituangkan dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Dalam GBPP yang berbentuk matrik telah ditentukan dari mulai tujuan yang harus dicapai, materi pelajaran yang harus disampaikan, cara yang harus dilakukan, hingga alokasi waktu pelaksanaan.
Dalam pengembangan kurikulum guru dianggap sebagai tenaga teknis yang hanya bertanggung jawab dalam mengimplementasikan berbagai ketetntuan yang ada. Kurikulum bersifat seragam, sehingga apa yang dilakukan guru di Indonesia bagian timur sama dengan apa yang dilakukan guru di Indonesia bagian barat. Dengan terbatasnya peran guru di sini, maka kreatifitas guru dan inovasi guru dalam merekayasa pembelajaran tidak berkembang. Guru tidak ada motivasi untuk melakukan berbagai pembaruan. Mengajar mereka anggap sebagai tugas rutin dan kesehari
an, dan bukan sebagai tugas profesional.

2.Adapter

Pada peran ini guru memiliki peran lebih dari sekedar pelaksana kurikulum, tetapi sebagai penyelaras kurikulum dengan karakteristik dan dan kebutuhan siswa dan kebutuhan daerah. Guru diberikan kewenangan untuk mnyesuaikan kurikuum dengan kebutuhan daerah ataupun karakteristik sekolah. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang dikembangkan di Indonesia, terdapat peran guru dalam fase ini, yaitu bahwa para perancang kurikulum hanya menentukan standar isi sebagai standar minimal yang harus dicapai, bagaimana implementasinya, kapan waktunya, dan hal-hal teknis lainnya ditentukan oeh guru. Dengan demikian peran guru sebagai adapter lebih luas dibandingkan dengan peran sebagai implementer.

3.Developer

Dalam tingkat ini guru berperan sebagai pengembang kurikulum, guru memiliki kewenangan dalam mendesain sebuah kurikulum. Guru tidak hanya bisa menentukan tujuan dan isi pelajaran yang akan disampaikan, tetapi bahkan dapat menentukan strategi apa yang harus dikembangkan dan sistem evaluasi apa yang akan digunakannya. Sebagai pengembang kurikulum guru sepenuhnya dapat menyusun kurikulum sesuai dengan karakteristik, misi dan visi sekolah/madrasah, serta sesuai dengan pengalaman belajar ayang diperlukan anak didik. Dalam KTSP peran ini dapat dilihat dalam pengembangan kurikulum muatan lokal. Dalam pengembangan kurikulum muatan lokal, sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing satuan pendidikan, karena itu kurikulum yang berkembang dapat berbeda antara lembaga yang satu dengan lembaga yang lainnya. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

4.Researcher

Fase terakhir adalah peran guru sebagai peneliti kurikulum (curriculum researcher). Peran ini dilaksanakan sebagai bagian dari tugas professional gurub yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kinerjanya sebagai guru. Dala mperan ini guru memiliki tanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum, misalnya menguji bahan-bahan kurikulum, menguji efektivitas program, strategi maupun model pembelajaran, termasuk mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai target kurikulum. Salah satu metode yang dianjurkan dalam penelitian adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni metode penelitian yang berangkat dari masaah yang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum. Melalui PTK, guru berinisiatif melakukan penelitian sekaligus melaksanakan tindakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan demikian, PTK merupakan salah satu metode yang tidak hanya menambah wawasan guru dan menambah profesionalismenya, tetapi secara terus-menerus dapat meningkatkan kualitas kinerjanya.

RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (RPS) 2021

  Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Kegiatan In House Training (IHT) di SM...