MODEL PEMBELAJARAN Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society ) DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR BIOLOGI MATERI POKOK MUTASI PESERTA DIDIK
KELAS XII-IPA SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2017/2018
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Oleh:
Sumini, S.Pd
SMA UTAMA 2
KECAMATAN RAWA LAUT BANDAR LAMPUNG
HALAMAN PENGESAHAN
MODEL PEMBELAJARAN Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society ) DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR BIOLOGI MATERI POKOK MUTASI PESERTA DIDIK
KELAS XII-IPA SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Nama Peneliti : Sumini, S.Pd
Tempat Penelitian : SMA UTAMA 2 Bandar Lampung
Tahun Penelitian : 2017 / 2018
Bandar Lampung, Agustus 2017
Kepala Sekolah
Drs. Hi. Suyitno Guru mapel Biologi
Sumini, S.Pd
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar biologi terutama pada materi pokok Mutasi dengan MODEL PEMBELAJARAN Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society ) DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR BIOLOGI . Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (action research) yang melibatkan empat komponen yakni: Planning (rencana), Action (tindakan), Observation (pengamatan), Reflection (refleksi).
Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XII-IPA2 SMA Utama 2 yang berjumlah 48 siswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus, dimana setiap siklusnya terdiri dari; 1) planning (rencana); untuk mengidentifikasi masalah dan merencanakan kegiatan pembelajaran dan membuat instrumen penelitian. 2) action (tindakan); melaksanakan model pembelajaran pendekatan SETS pada mata pelajaran biologi materi pokok mutasi. 3) observation (pengamatan); pengambilan data tentang aktivitas belajar melalui tes evaluasi, lembar observasi, serta lembar kuesioner. 4) reflection (refleksi); menganalisis data hasil pengamatan.
Dari hasil penelitian diperoleh: Hasil pengamatan aktivitas peserta didik pada siklus I yakni rata-rata aktivitas peserta didik dengan guru adalah 61,56% dan rata-rata aktivitas peserta didik dengan peserta didik adalah 66,79%, Dan jumlah keseluruhan aktivitas peserta didik adalah 77,78%. Untuk hasil pengamatan aktivitas peserta didik pada siklus II aktivitas peserta didik dengan guru adalah 78,43% dan rata-rata aktivitas peserta didik dengan peserta didik adalan 83,78%, dan jumlah keseluruhan aktivitas peserta didik 94,44 %.
Berdasarkan hasil penelitian ini maka model pembelajaran pendekatan SETS dapat meningkatkan aktivitas belajar biologi materi pokok mutasi peserta didik kelas XII-IPA SMA Utama 2.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan nabi kita Muhammad SAW, para sahabat dan pengikutnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan dapat menyusun Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “MODEL PEMBELAJARAN Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society ) DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR BIOLOGI MATERI POKOK MUTASI”
Terwujudnya laporan ini berkat bimbingan, arahan serta bantuan dari berbagai pihak, maka dari itu perkenankanlah penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Lampung
2.Kepala UPTD Pendidikan Lampung
3.Kepala SMA Utama 2 Bandar Lampung
4.Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan PTK ini
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan dan kekeliruan, maka penulis mengharap saran dan kritik demi penyempurnaan penyusunan laporan ini. Semoga penyusunan laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
PENGESAHAN ii
ABSTRAK iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Identifikasi dan Rumusan masalah 7
C. Penegasan istilah ……………………………… 7
D. Manfaat penelitian …………..…………………………… 7
BAB II: LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Landasan teori 7
B. Hipotesis Tindakan 33
BAB III: METODE PENELITIAN
A. Tujuan Penelitian 10
B. Waktu dan Tempat Penelitian 10
C. Subyek Penelitian 10
D. Kolaborator Penelitian 10
E. Jadwal Penelitian 10
F. Teknik Pengumpulan Data 10
G. Metode Penelitian 10
H. Metode Analisis Data 11
I. Indikator Keberhasilan 11
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Situasi dan Kondisi Tempat ..…………………………. 12
B. Data Hasil Penelitian..……………………………………………. 12
C. Pembahasan……………………………………………………… 12
BAB V: KESIMPULAN SARAN DAN PENUTUP
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15
C. Penutup 15
DAFTAR PUSTAKA 16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang tercapai oleh peserta didik setelah diselenggarakannya kegiatan pendidikan.
Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah mesti melalui pembelajaran. Berbagai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar di sekolah telah muncul dan berkembang seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembelajaran merupakan aktivitas yang utama dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan sistem lingkungan atau kondisi belajar yang lebih kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan mengajar yang merupakan proses membimbing kegiatan belajar.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam individu siwa maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan disekitarnya. Dalam proses pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Untuk itu diperlukan peranan guru dalam proses belajar mengajar di kelas untuk mempengaruhi keberhasilan peserta didik.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan cabang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis. IPA bukan hanya sekedar penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta¬fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Proses pembelajarannya menitik beratkan pada pemberian pengalaman langsung kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah. Belajar biologi dapat membantu siswa untuk memahami alam dan gejalanya, karena itu belajar biologi banyak berkaitan dengan penelitian dan penyelidikan, selama proses pencarian ini siswa dapat menumbuhkan sikap ilmiah dan nilai positif lainnya.
Beberapa sikap ilmiah yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran biologi antara lain sikap ingin tahu, jujur, tekun, terbuka tehadap gagasan baru, tidak percaya tahayul, sulit menerima pendapat yang tidak disertai bukti, berpikir logis, peka terhadap makhluk hidup dan lingkungannya. Berdasarkan observasi yang dilakukan guru, yaitu pada pembelajaran biologi tentang Mutasi di kelas XII-IPA SMA Utama 2 tampak bahwa keaktifan dan kinerja peserta didik belum optimal, 65% peserta didik kurang memberi respon terhadap materi dan pertanyaan dari guru. Pembelajaran di kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Oleh karena itu seorang guru dalam penyampaian materi pelajaran biologi haruslah mengetahui metode dan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
Karakteristik pengetahuan Mutasi memungkinkan peserta didik berpikir kritis dan komprehensip jika pembelajarannya menggunakan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society). Melalui pendekatan ini peserta didik diharapkan dapat memahami keterkaitan antara struktur, fungsi dan proses serta kelainan / penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi dengan menerapkan konsep¬konsep yang dimiliki dari berbagai ilmu terkait
Salah satu pilihan dalam pembelajaran sains adalah SETS. Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society ) memberi penekanan pada konservasi nilai positif pendidikan, budaya dan agama, sementara tetap maju dalam bidang sains, tekhnologi dan ekonomi. Pembelajaran dalam pendekatan SETS selalu dihubungkan dengan kejadian nyata yang dijumpai siswa dalam kehidupanya (bersifat kontekstual) .
Permasalahan di atas dapat dilakukan penelitian tindakan kelas ( PTK ) sebagai alternatif dalam penyelesaian. Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki mutu praktik pembelajaran kelas.
Upaya penelitian tindakan kelas ( PTK ) diharapkan dapat menciptakan budaya belajar ( learning culture ) dikalangan guru dan peserta didik. Penelitian tindakan kelas ( PTK ) menawarkan peluang sebagai strategi pengembangan kinerja, sebab pendekatan penelitian ini menampilkan pola kerja yang kolaboratif.
Atas dasar permasalahan yang telah dikemukakan di atas peneliti mencoba menerapkan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society ) dalam pembelajaran biologi di SMA Negeri 8 ... dengan harapan peserta didik dapat menguasai dan menerapkannya.
B. Identifikasi dan Perumusan Masalah
Latar belakang masalah diklasifikasikan sebagai permasalahan yang akan dihadapi, yaitu kurang tertariknya peserta didik kelas XII-IPA SMA Utma 2 dalam mengikuti pelajaran biologi dengan alasan membosankan dan kurang menarik, adapun permasalahannya :
1. Bagaimana penerapan pendekatan SETS pada mata pelajaran biologi materi pokok Mutasi di kelas XII-
IPA SMA Utama 2 ?
2. Apakah penerapan pendekatan SETS pada pembelajaran Biologi materi pokok Mutasi dapat
meningkatkan hasil belajar siswa?
C. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kemungkinan adanya pemahaman yang berbeda dari para pembaca maka dalam penulisan Penelitian ini perlu dikemukakan arti dari istilah kata-kata yang menjadi judul penelitian ini :
1. Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society ) Kata SETS (Science, Environment, Technology, and Society) dapat dimaknakan sebagai sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, merupakan satu kesatuan yang dalam konsep pendidikan mempunyai implementasi agar anak didik mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking). PTK biologi sma lengkap Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran sains. Contoh ptk biologi dengan Pendekatan ini dapat menghubungkan konsep sains yang sedang dipelajari siswa dengan lingkungan, tekhnologi dan masyarakat.
2. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Penguasaan hasil belajar oleh siswa dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah nilai yang diperoleh melalui tes.
3. Biologi adalah Ilmu yang mempelajari keadaan dan sifat makhluk hidup.
4. Materi pokok Mutasi merupakan salah satu materi dari pelajaran biologi yang diberikan pada kelas XII-IPA tingkat SMU/MA. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
D. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini manfaat yang diharapkan adalah sebagai berikut :
1. Secara teoritis
Adanya penelitian ini, penulis dapat mengetahui penerapan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) khususnya pembelajaran biologi di kelas XII-IPA SMA Utama 2
2. Secara praktis
a. Bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami pembahasan materi pokok ekskresi pada manusia di kaitkan dengan kejadian di sekitar siswa yang di hubungkan dengan aspek SETS.
b. Bagi Guru
Penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar khususya pelajaran biologi dalam menggunakan pendekatan SETS sebagai pendekatan yang tepat untuk menyampaikan materi pokok ekskresi pada manusia ataupun materi lainnya yang relevan dalam rangka mewujudkan pelajaran yang berkualitas dan sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah.
c. Bagi Sekolah
Penelitian ini dapat memberikan masukan yang baik bagi pihak sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa sekaligus kualitas pendidikan dari sekolah tersebut.
d. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menambah pengalaman baru yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar di masa mendatang.
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.LANDASAN TEORI
Mutu Pendidikan indonesia perlu ditingkatkan salah satunya dengan memperbaiki kurikulum, sarana
pendidikan, serta pengelolaan dan pendayagunan laboratorium. Selain itu dalam proses belajar mengajar yang mencakup cara mengajar, metode serta pendekatan yang digunakan. (Wahdah, Muris, & Arsyad, 2017).
Biologi adalah bidang ilmu yang mempelajari alam dan gejalanya, dari yang bersifat nyata sampai yang bersifat abstrak. Belajar fisika dapat membantu peserta didik memahami alam sekitar dengan penyelidikan. (Amalia, Indrawati,
Pendekatan Science, Environment, Technology, Society (SETS) yang dalam Pendidikan di Indonesia lebih dikenal sebagai pendekatan “Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat (Salingtemas)”. Definisi SETS menurut the NSTA Position Statement 1990 (dalam Kuswati, 2004:11) adalah memusatkan permasalahan dari dunia nyata yang memiliki komponen Sains dan Teknologi dari perspektif siswa, yang di dalamnya terdapat konsep-konsep dan proses, selanjutnya siswa diajak untuk menginvestigasi, menganalisis, dan menerapkan konsep dan proses itu pada situasi yang nyata. Pendekatan SETS/ Salingtemas diambil dari konsep pendidikan STM (Sains, Teknologi, dan Masyarakat, Pendidikan Lingkungan (Environmental Education/EE), dan STL (Science, Technology, Literacy). Dalam pendekatan Salingtemas atau SETS (Science, Environmental, Technology and Society) konsep pendidikan STM atau STL dan EE dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan (Depdiknas, 2002:5).
Dasar pendekatan ini, adalah siswa akan memiliki kemampuan memandang suatu materi dengan cara mengintegrasikan terhadap keempat unsur, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang materi sains. Urutan ringkasan pendekatan ini membawa pesan bahwa untuk menggunakan sains (S-pertama) ke bentuk teknologi (T) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat (S-kedua) diperukan pemikiran tentang berbagai implikasinya pada lingkungan (E) secara fisik maupun mental. Secara tidak langsung, hal ini menggambarkan arah pendekatan SETS yang relatif memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan manusia.
Jadi, pendidikan SETS (Science, Environment, Technology, and Society), bukan pendidikan angan-angan atau di atas kertas saja, melainkan benar-benar membahas sesuatu yang nyata yaitu, bisa dipahami, dapat dilihat dan dibahas dan bisa dipecahkan jalan keluarnya. Dengan kata lain, pendekatan ini didefinisikan sebagai belajar dan mengajar mengenai sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Ini berarti bahwa peserta didik dalam pembelajarannya selain mempelajari teori tentang sains (ilmu pengetahuan alam) mereka juga menengok kehidupan nyata mereka yang berhubungan dengan teori yang dipelajari, sehingga akan berdampak positif dalam pemahaman peserta didik. Maka, dengan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society), hasil pembelajaran diharapkan mampu memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa dalam mengembangkan kehidupan sebagai manusia pribadi, anggota masyarakat, warga negara, sehingga siap untuk mengikuti pendidikan selanjutnya. Adapun teori belajar yang digunakan dalam pendekatan SETS adalah konstruktivisme, behaviorisme, cognitive development, dan social cognitive.
Gambar 1. Skema Pembelajaran SETS Approach
Kelebihan diterapkan pendekatan SETS:
1.Siswa memiliki kemampuan memandang sesuatu secara terintegrasi dengan memperhatikan keempat unsur SETS, sehingga dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengetahuan yang telah dimiliki.
2.Melatih siswa untuk peka terhadap masalah yang sedang berkembang di lingkungan mereka/ mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
3. Siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan sekitar atau sistem kehidupan dengan mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik.
4.Siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran
Kelemahan diterapkan pendekatan SETS:
1. Siswa mengalami kesulitan dalam menghubungkan atau mengkaitkan antar unsur-unsur SETS
dalam pembelajaran.
2. Membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam pembelajaran.
3. Pendekatan SETS hanya dapat diterapkan dikelas atas.
4. Bagi guru yang tidak berwawasan luas akan kesulitan kesulitan dalam mengajarkan
Pada pembelajaran menggunakan pendekatan SETS siswa diminta menghubungkan antara keempat unsur SETS, sehingga kemungkinan siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS, baik dalam bentuk kelebihan maupun kekurangannya. (Nono Sutanto,2007:30). Penerapan pendekatan SETS pada pembelajaran sains, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.Siswa diminta untuk menjelaskan keterhubungkaitan antara unsur sains yang dibahas dalam SETS yang mempengarui berbagai keterkaitan antara unsur-unsur tersebut.
2.Siswa dibawa untuk mempertimbangkan manfaat atau kerugian menggunakan konsep sains tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi, lingkungan dan masyarakat
3.Siswa dapat diajak berpikir kontruktivisme tentang SETS dari berbagai macam arah tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan.
Gambar 2. Keterkaitan Antar Unsur SETS Pada Pembelajaran Sains
Pembelajaran SETS juga membatu peserta didik dalam memanfaatkan lingkungan sekolah memperoleh informasi berdasarkan materi yang dipelajari, peserta didik memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah untuk mengamati benda-benda yang ada di sekitar sekolah. Kemudian peserta didik
memanfaatkan masyarakat untuk berinteraksi dalam menemukan informasi, jadi peserta didik tidak hanya diajarkan untuk memanfaatkan lingkungan untuk memperoleh informasi tetapi juga memanfaatkan masyarakat untuk memperoleh informasi. Serta peserta didik dapat menerapkan teori yang dipelajari dengan teknologi yang ada.
Tujuan dari Penelitian ini untuk melihat pengaruh Pembelajran SETS (Science, Environment, Technology, Society) terhadap keterampilan proses sains peserta didik.
B.PENGAJUAN HIPOTESIS
Model Pembelajaran Pendekatan SETS ( Science, Environment, Technology, and Society ) dapat meningkatkan
aktifitas belajar siswa pada materi MUTASI
BAB III METODE PENELITIAN
A.Tujuan Penelitian
Supaya peserta didik memiliki literasi sains dan teknologi serta peduli terhadap masalah masyarakat dan lingkungan disekitarnya.(Poedjiadi, 2010) Dalam konteks pendidikan bervisi SETS, urutan ringkasan SETS membawa pesan bahwa untuk menggunakan sains (S) ke bentuk teknologi (T) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat (S-kedua) diperlukan pemikiran tentang berbagai implikasinya pada lingkungan (E) secara fisik maupun mental. (Fatchan & Soekamto, 2014) Pembelajaran SETS terdiri dari lima tahapan yaitu inisiasi, pengembangan konsep, aplikasi konsep dan pemantapan konsep serta penilaian.
Keunggulan dari model pembelajaran SETS dapat Melatih peserta didik melakukan metode kerja ilmiah. Sehingga peserta didik mampu membuat karya ilmiah yang tertata dan terorganisasi dengan baik. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi. Membuat pembelajaran menjadi
menyenangkan. Membantu peserta didik mengenal dan memahami sains dan teknologi serta dampak negatif yang bisa ditimbulkan dalam kehidupan sehari-hari.(Wahdah et al., 2017)
Keterampilan proses sains merupakan proses mencari dan menemukan, dimana proses pembelajaran dilakukan dengan memberikan pengalaman langsung pada peserta didik dengan langkah-langkah
kerja ilmiah sesuai dengan yang dilakukan para ilmuwan. (Jufri, 2013) Pembelajaran IPA diperlukan penyelidikan, secara observasi maupun eksperimen, sebagai kerja ilmiah yang melibatkan keterampilan proses sikap ilmiah. Melalui kerja ilmiah, peserta didik dapat memanfaatkan fakta, membangun konsep, prinsip, teori sebagai dasar untuk berpikir kreatif, kritis, analitis, dan divergen. Metode praktikum yang digunakan dalam pembelajaran dengan mengaplikasikan keterampilan proses
sains dapat membuat siswa terlatih dan menjadi terampil dalam mengemukakan dan mengembangkan teori dan konsep yang dipelajari.(Ria, 2014). Indikator keterampilan proses sains terdiri dari keterampilan proses dasar yaitu(Jufri, 2013): mengamati, mengukur, memprediksi, mengelompokkan,
menginferensi, dan mengkomunikasikan.
B. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian dilakukan pada waktu pembelajaran materi mutasi disemester genap yang bertempat di SMA UTAMA 2 kelas XII IPA
C.Subyek penelitian
Yang menjadi subyek penelitian adalah peserta didik kelas XII IPA 1 dan 2
D.Kolaborator
E.Jadwal
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada waktu pembelajaran dilakukan disemester genap pada kelas XII IPA 1 dan IPA 2 yang dilakukan pada hari yang sama tetapi waktu yang berlainan.
F.Tehnik Pengumpulan Data
Penggumpulan data dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan kepada peserta didik yang berupa essai pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.
G.Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian Quasi Experimental dengan desain randomized control group only pascatest design. pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel terikatnya adalah
keterampilan proses sains dan Variabel Bebas Model pemebelajaran SETS (Science, Environment, Technology, Society). Penelitian dilaksanakan di SMA Utama 2 Bandar Lampung semester genap tahun ajaran 2017/2018. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh peserta didik pada kelas XII IPA yang berjumlah 138 yang terdiri dari 2 kelas. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 1 kelas yang berjumlah 23 peserta didik sebagai kelas eksperimen, yaitu kelas XII IPA 1 yang berjumlah 27 peserta didik sebagai kelas kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah cluster sampling (Sugiyono, 2016). Instrumen penelitian di artikan sebagai alat ukur dalam penelitian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menguji hipotesis penelitian. Jenis instrumen dalam penelitian ini berupa tes essay, dimana tiap soal mengukur indikator keterampilan proses sains yang berbeda. Sebelum Soal digunakan untuk penelitian terlebih dahulu diuji validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran. Analisis data untuk menguji normalitas, homogenitas dan hipotesis.
Untuk menguji hipotesis mengunakan uji t. Uji hipotesis ini dilakukan dengan menggunakan rumus polled varians sebagai berikut: (Sugiyono, 2014)
Keterangan:
X1: Nilai rata-rata post test dari kelas eksperimen
X2: Nilai rata-rata post test dari kelas kontrol
n1: Jumlah sampel kelas eksperimen
n2: Jumlah sampel kelas control
S1: varians dari kelas eksperimen
S2: varians dari kelas kontrol
Kriteria Uji :
Setelah dilakukan penghitungan sesuai dengan rumus, maka pengujian dengan melihat perbandingan antara thitung dan ttabel di mana ttabel = t(n1+n2-1) dengan taraf signifikan α = 0,05.
Kesimpulan :
Jika thitung ≤ ttabel maka H0 diterima. Teknik Analisis Data Keterampilan Proses Sains
Instrumen keterampilan proses sains yang kedua berupa lembar observasi keterampilan proses sains. Dalam teknik analisis lembar observasi yang akan dinilai adalah aspek dari keterampilan proses sains dengan skala likert. Adapun tahapan analisisnya adalah:
1. Menjumlahkan indikator dari aspek KPS yang diamati.
2. Analisis data hasil penilaian lembar observasi keterampilan proses sains mengunakan skala likert dengan persamaan sebagai berikut :
%KPS = Skor yang diperoleh x 100
Skor maksimal
Tabel 1. Kriteria Interpretasi Skor
Presentase Keterangan
81-100 Sangat Baik
61-80 Baik
41-60 Cukup
21-40 Kurang
0-20 Sangat Kurang
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.Deskripsi Situasi dan kondisi tempat
Penelitian dilakukan di SMA utama 2 BandarLampung yang melibatkan 2 kelas XII IPA yang pelaksaannya dilakukan dikelas masing-masing dengan penerapan yang berbeda.
B.Data hasil penelitian
Data-data hasil penelitian berupa hasil lembar observasi keterampilan proses sains dan tes berupa uraian sebanyak 10 soal.
Tabel 2. Hasil Pretest dan posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen
Kelas Pretest Posttest N-gain
Kontrol 39,94 62,56 0,37
Eksperimen 40,96 81,54 0,68
C.Pembahasan
Berdasarkan tabel diatas menunju kan bahwa nilai rata-rata Postest kelas kontrol lebih rendah diandingkan kelas eksperimen. Hal ini menunjukan hasil N-Gain Kelas Kontrol lebih kecil dibanding
N-Gain Kelas eksperimen. Maka dapat disimpulkan bahwa pem belajaran dengan mengunakan model
pembelajaran SETS (Sains, Environment, Technology, and Society) yang diberikan dikelas eksperimen mampu meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik. Observasi dilaksanakan pada saat
pembelajaran berlangsung dengan diadakannya praktikum. Hal yang diamati berupa indikator indikator pada keterampilan proses sains peserta didik saat pembelajaran berlangsung, Berikut ini hasil lembar observasi keterampilan proses sains.
Gambar 1. Diagram hasil observasi keterampilan proses sains
1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas pada penelitian ini mengunakan uji liliefors (dengan taraf signifikan α = 0,005) dengan mengunakan aplikasi microsoft excel. Data terdistribusi normal jika nilai signifikan > 0,05. Jika nilai signifikan < 0,05 maka data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas yang digunakan uji
liliefors, menunjukan data terdistribusi normal.
68,59 70,42 68,59 65,85 68,59 69,20
81,09 72,25 71,33 70,42 73,78 78,96
0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00%
60.00% 70.00% 80.00% 90.00% 100.00%
Persentase Kontrol Persentase Eksperimen
Tabel 3. Hasil uji Normalitas pada kelas kontrol dan kelas eksperimen
Data LTabel Lhitung Kesimpulan
Kelas Eksperimen Pretest 0,142
N = 39 0,108 Lhitung < Ltabel Data terdistribusi
normal
Posttest 0,135
Per. I 0,134
Per.II 0,133
Kelas Kontrol Pretest 0,138
N = 41 0,112
Posttest 0,127
Per. I 128
Per.II 124
Berdasarkan tabel hasil uji normalitas kelas eksperimen dan kontrol dengan pretest, posttest dan Lembar Observasi dengan taraf signifikan 0,05. Hasil uji normalitas Pada kelas eksperimen di
peroleh nilai Lhitung < Ltabel, sehingga H0 diterima pada data kelas eksperimen terdistribusi normal dan hasil uji normalitas kelas kontrol diperoleh nilai Lhitung < Ltabel sehingga data pada kelas
kontrol terdistribusi normal. Sehingga data keterampilan proses sains terdistribusi Normal.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas pada penelitian ini mengunakan Uji homogenitas dua varians dengan taraf signifikan α = 0,005 digunakan untuk menguji apakah kedua data tersebut homogen. Dan apakah sampel yang digunakan memiliki varian yang sama atau tidak. Adapun kriteria penerimaan data homogen adalah jika Fhitung < Ftabel , H0 diterima maka sampel homogen dan jika Fhitung > Ftabel maka
sampel tidak homogen. Berikut hasil uji homogenitas disajikan pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas Kelas Eksperimen dan Kontrol
Data FTabel Fhitung Kesimpulan
Pretest 1,7012 0,9984 Fhitung < Ftabel data dinyatakan
homogen H1 diterima.
Posttest 0,7191
Per. I 0,8318
Per.II 0,9873
Hasil uji homogenitas pada kelas kontrol dan kelas eksperimen memiliki Fhitung < Ftabel sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima artinya populasi tersebut memiliki varians yang sama.
Setelah diketahui data memiliki varians yang sama maka dapat dilanjutkan dengan mengunakan statistik parametik yaitu uji t.
3. Hasil pengujian hipotesis
Berdasarkan data yang telah di uji normalitas dan homogenitas kemudian data dinyatakan normal dan homogen, maka dilanjutkan dengan pengujian hipotesis dengan mengunakan statistika
parametris yaitu uji-t. Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui adakah pengaruh perlakuan dengan mengunakan model pembelajaran SETS (Sains, Environment, Technology, and Society)
terhadap ketrampilan proses sains peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun kriteria penerimaan data terdapat perbedaan atau tidak adalah sebagai berikut :
Jika thitung ≤ ttabel maka H0 diterima, H1 ditolak.
Jika thitung > ttabel maka H1 diterima, H0 ditolak.
Berikut hasil uji hipotesis yang disajikan
pada tabel5.
Tabel 5. Hasil uji hipotesis Keterampilan proses sains
Data Thitung tTabel Kesimpulan
Tes 11,1223 1,9908 Thitung > Ttabel maka H1 Diterima.
Observasi 11,0396 1,9908
Berdasarkan uji t dari kelas kontrol dan kelas eksperimen berupa tes dan observasi maka didapat hasil hipotesis dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh thitung lebin besar daripada ttabel sehingga
thitung > ttabel. Maka H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model Pembelajaran SETS (Science, Environment, Technology and Society) terhadap keterampilan proses
sains. Pembelajaran SETS mengaitkan empat unsur yaitu sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat. Sehingga dengan keempat unsur tersebut dapat meningkatkan keterampilan proses sains
peserta didik. Pada masing masing unsur SETS terdapat hubungan terhdap Keterampilan proses sains peserta didik. Seperti Science pada indikator mengukur, Environment dengan Mengamati dan
Mengelompokkan, Technology pada indikator memprediksi dan pada unsur Society indikator mengkomunikasi. Berdasarkan hasil Penelitian Nofia nur miftiana, andari puji astuti, fitria faticatul hidaya bahwa model pembelajaran SETS dapat mengarahkan pola sikap peserta didik dalam
bersosialisasi dan meningkatkan daya pikir terutama pada ilmu kimia yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.(Miftianah, Astuti;, & Hidayah, 2015).
Observasi yang dilakukan pada penelitian ini diaukan untuk mengetahui keterampilan proses sains peserta didik mengunakan model pembelajaran SETS pada materi usaha dan energi. Data yang
di dapat pada hasil observasi keterampilan proses sains memperlihatkan indikator mengamati terletak pada hasil yang tertinggi sebesar 81,09% pada kelas eksperimen, Namun pada kelas kontrol
indikator mengukur dengan hasil 70,42 %.
Hasil keterampilan proses sains
peserta didik yang memiliki kriteria sangat baik yaitu pada indikator mengamati dan menginterpretasi data dengan masing masing persentase yaitu 81,09% dan 78,96%. Kemudian indikator keterampilan proses sains memiliki kriteria baik yaitu Mengamati dan Mengkomunikasi. Setelah diterapkan model
pembelajaran SETS dapat meningatkan keterampilan proses sains peserta didik terlihat pada masing masing indikator mendapat nilai yang tinggi. Namun pada indikator mengiteferensi terendah karena
mayoritas peserta didik belum mampu mengemukan pendapat dengan menyatakan sesuatu berdasarkan hasil dari pengamatan sehingga peserta didik mendapatkan angka yang rendah pada
indikator ini. Penerapkan pembelajaran SETS didapatkan hasil observasi penguasaan pemahaman peserta didik lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Ditinjau dari hasil persentase observasi pada setiap pertemuan meningkat. Pembelajaran SETS dapat melatih peserta didik untuk menguasai keterampilan proses, karena langkah langkah pada pembelajaran SETS cocok meningkatkan keterampilan proses sains peseta didik.
Pengujian hipotesis menggunakn uji-t terhadap hasil tes dan observasi keterampilan proses sains kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Pengujian ini dilakukan secara manual dengan mengunakn microsoft excel. pengaruh model Pembelajaran SETS (Science, Environment, Technology and Society)
terhadap keterampilan proses sains. Kelas eksperimen lebih unggul dibanding dengan kelas kontrol. Hal ini disebabkan pada kelas eksperimen digunakan model pembelajarn SETS dimana peserta didik dapat menentukan sendiri permasalahan yang akan dipelajari dan memecahakan masalah tersebut dengan melibatkan sosial, teknologi dan lingkungan. Hal ini akan meningkatkan keterampilan proses sains peserta didik Hasil penelitian zalfa ameliya terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas yang menggunakan pembelajaran SETS dan pada kelas yang tidak menggunakan SETS dapat dilihat dengan hasil uji t yaitu thitung = 7,225 dengan taraf signifikan 5% ttabel 2. (Kiky,2017)
Metode pembelajaran yang digunakan pada kelas kontrol yaitu ceramah dan diskusi. Dalam interaksi
pembelajaran sangat berpusat kepada guru sehingga belum bisa mengoptimalkan pembelajaran dan belum bisa mengaktifkan peserta didik. Peserta didik masih bergantung pada penjelasan guru sehingga kemampuan dan wawasan peserta didik masih minim. Selain itu sumber data atau kajian pustaka yang digunanakan pada kelas kontrol hanya bersumber dari buku cetak dan internet, sehingga materi yang mereka dapatkan terbatas. Hal ini berimbas pada kesulitan peserta didik dalam penguasaan
memecahan masalah karena kurang memahami situasi dan kondisi yang ada dilapangan.
Persentase lembar observasi pada pertemuan pertama dan kedua terdapat peningkatan penguasaan pada pembelajaran tentang mutasi pada kelas yang diterapkan pembelajaran SETS. Hal ini diperkuat dengan hasil persentase dari dua pertemuan. Karena keempat unsur SETS dapat memengaruhi penguasaan keterampilan proses peserta didik. Hasil penelitian dalam pemebelajaran SETS peserta didik diajak untuk belajar dari pemasalahan dalam dunia nyata, sehingga dapat meningkatkan pemahaman peserta didik. Dengan demikian hipotesis diterima, sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh model pembelajaran SETS dalam meningkatkan keaktifan peserta didik pada pembelajaran materi mutasi..
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Berdasarkan landasan teori, analisis data, perhitungan uji-t dan mengacu pada rumusan masalah diketahui bahwa peserta didik yang menggunakan model pembelajaran (Science, Environment, Technology and Society) Hasil analisis menunjukan thitung = 11,1223 sedangkan ttabel = 1,9908 dengan taraf signifikan 0,05% sehingga thitung > ttabel. H1 diterima,. terdapat pengaruh model Pembelajaran SETS (Science, Environment, Technology and Society) terhadap peningkatan belajar mutasi. Dapat simpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran SETS dalam meningkatkan keaktifan peserta didik pada materi mutasi kelas XII IPA.
B.Saran
Untuk meningkatkan keaktifan siswa pada pembelajaran biologi perlu kiranya diterapkan pada materi lainya yang dianggap sulit bagi peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, M. R., Indrawati, & Subiki. (2017). Model GI-GI (Group Investigation-Guided Inquiry) Dalam Pembelajaran Gerak Lurus Di SMA Negeri Rambipuji (Studi pada Aktivitas Belajar Siswa, Efektivitas Pembelajaran, dan Hasil Belajar Siswa). Jurnal Pembelajaran Fisika, 6(1).
Atminiati, E., & Binadja, A. (2017). Keefektifan Pembelajaran Guided Note Taking Bervisi Sets Bermedia Chemo Edutainment Dalam Meningkatkan, 11(2).
Fatchan, A., & Soekamto, H. (2014). Pengaruh Model Pembelajaran Science , Environment , Technology , Society ( SETS ) Terhadap Kemampuan Berkomunikasi Secara Tertulis Berupa Penulisan Karya Ilmiah bidang geografi siswa SMA. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 21.
Jufri, W. (2013). Belajar dan Pembelajaran Sains. Bandung: Pustaka Reka Cipta. Miftianah, N. N., Astuti;, A. P., &
Hidayah, F. F. (2015). Analisis Keterampilan Proses Kritis Siswa Melalui Pembelajaran SETS Kelas X
Pada Materi Larutan Elektrolit dan NonElektrolit. Seminar Nasional Pendidikan, Sains Dan Teknologi
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas \Muhammadiyah Semarang.
Poedjiadi, A. (2010). Sains Teknologi Masyarakat. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sugiyono. (2014). Metode Penliian Kuantitatif Kualikatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Al. Wahdah, Muris, & Arsyad, N. (2017). Implementasi Stategi Pembelajaran Aktif Dalam Meningkatkan Kemampuan Menyelesaikan Masalah Fisika Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Sinjai Kabupaten Sinjai. Jurnal Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar, 5. Wisudawati, A. W., & Sulistyowati, E.
(2017). Metodologi Pembelajaran IPA. Jakarta: Bumi Aksara
Selamat datang di SMA Utama 2 Bandarlampung. Sekolah swasta berstandar nasional terakreditasi A, berlokasi di Jl. Jendral Sudirman No 39 Bandarlampung.
Senin, 13 April 2020
Program Ekskul Seni Budaya
PROGRAM
EKSTRAKULIKULER
SENI
SMA UTAMA 2
BANDAR LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan Taufik dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Program Kerja Kegiatan Ekstrakurikuler Seni di SMA UTAMA 2 Bandar Lampung.
Sebelumnya perlu disampaikan juga bahwa kegiatan ini sebagai wahana pembinaan bakat melalui proses kegiatan ekstrakurikuler Seni yang lebih memantapkan keterampilan dan untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.
Kami harap dari kegiatan ini dapat memberikan satu inspirasi baru bagi kreatifitas dalam melakukan aktifitas di bidang seni khusunya bagi siswa dan siswi yang dengan keras melaksanakan latihan.
Mudah-mudahan program kerja ekstrakulikuler seni ini dapat membantu kami dalam membimbing dan mengarahkan siswa dan siswi yang kami cintai, dan semoga bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya.
Bandar Lampung , Juli 2020
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban manusia. Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, professional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan Nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriot dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiawakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para Pahlawan serta berorientasi masa depan.
Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan kegiatan-kegiatan melalui jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Pada jalur sekolah selain dilakukan kegiatan kurikuler, juga dilakukan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan untuk lebih memantapkan bakat dan keterampilan dan untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. Jalur luar sekolah tersebut antara lain keterampilan seni yang pelaksanaannya dilakukan oleh sekolah.
Kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di sekolah. Seni merupakan bentuk kegiatan yang mengembangkan pengetahuan kemampuan penalaran siswa dan ketrampilan. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka agar kegiatan seni benar-benar dapat dilaksanakan sebaik-baiknya dan dapat menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional, maka perlu pembinaan kegiatan ekstrakurikuler di Bidang Seni. Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat salah satu mata pelajaran yaitu Seni Budaya dan Keterampilan yang sangat diperlukan karena didalamnya terdapat penanaman akan nilai edukasi dan estetika yang berakar pada tradisi seni budaya. Salah satu tujuan Seni Budaya dan Keterampilan adalah menggali kemampuan, bakat dan minat siswa dalam berolah seni dan rasa, baik rasa musikal, peran, gerak maupun rupa.
Tidak seimbangnya kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dengan alokasi waktu yang tersedia, maka diperlukan waktu ekstra diluar jam pelajaran sebagai sarana pengembangan dari kemampuan yang harus dimiliki, yaitu kegiatan ekstrakulikuler. Dalam rangka pengembangan kemampuan dan menggali potensi siswa dalam mengolah rasa, maka SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG perlu mengadakan kegiatan ekstrakurikuler salah satu cabang seni tari. Kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk seni selain untuk media latihan kesehatan melalui olah tubuh juga merupakan sarana bagi para siswa untuk dapat mengembangkan potensi, bakat dan minat yang dimilikinya, sehingga menjadi manusia yang sehat dan berprestasi, baik secara individual maupun kolektif.
B. Tujuan
Tujuan Pembinaan kegiatan Ekstrakurikuler di bidang seni di SMA UTAMA 2 Bandar Lampung adalah untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, khususnya di bidang pembinaan bakat dan minat dibidang seni yang berkembang di masyarakat serta untuk membentuk siswa- siswa yang sehat, baik jasmani, jiwa dan pikirannya, sehingga menjadi manusia yang betul- betul siap dan berprestasi dalam menjalani kehidupannya baik di lingkungan akademis ataupun di masyarakat.
C. Target
Target yang ingin dicapai dalam pelaksanaan erkstrakurikuler seni yang dilaksanakan di SMA UTAMA 2 Bandar Lampung diantaranya adalah :
1. Melatih anak didik agar mampu mengembangkan dan membina potensi, minat, bakat yang dimilikinya dalam bidang seni, sehingga mampu berprestasi secara positif dalam berbagai cabang seni sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
2. Membangkitkan rasa kepercayaan diri para siswa untuk selalu hidup sebagai manusia yang sehat, sehingga dengan demikian akan lahir dorongan untuk menjauhi hal-hal yang merusak kesehatannya termasuk Narkoba .
3. Menciptakan sikap sportifitas pada siswa
4. Menciptakan lingkungan yang sehat dan kondusif bagi perkembangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan pengajaran di sekolah.
5. Kompetisi yang memuat cabang-cabang seni dimaksudkan untuk melatih siswa dalam menumbuhkembangkan sikap sportif dalam pergaulan dan dari sudut pandang prestasi akan mendorong siswa untuk lebih memperbaiki dan meningkatkan dirinya di bidang seni.
6. Memperhalus rasa yang ada pada siswa agar mampu mengapresiasi dan mengekspresikan nilai-nilai seni yang ada pada dirinya.
7. Mengenalkan dan menanamkan rasa cinta siswa terhadap seni
8. Sebagai sarana dan wadah untuk menggali ekspresi, potensi bakat dan minat siswa dalam berolah seni.
D. Waktu dan Tempat Kegiatan
1. Waktu latihan
Dilaksanakan setiap hari Senin pukul 15.30-17.00 WIB dan Kamis pukul 15.30-17.00 WIB
2. Tempat kegiatan
Ruang Keterampilan/Lap Musik dan Aula
BAB II
PENGORGANISASIAN
Untuk memperlancar kegiatan ekstrakurikuler seni, maka dibentuklah susunan kepengurusan, diantaranya adalah sebagai berikut :
A. Penanggung Jawab : Drs. Suyitno, M.Pd (Kepala Sekolah)
B. Koordinator : Lailatun Hermaini K, S.Sos
C. Ketua : Anisa Martiah, M.Pd.E
D. Bendahara : Lilik Supriyanto, S.Pd
E. Seksi Pelaksana :
1. Seni Rupa
2. Seni Tari
3. Seni musik
4. Seni vokal / Paduan suara
BAB III
PELAKSANAAN EKSTRAKURIKULER SENI
A. BENTUK KEGIATAN
1. Seni Rupa
• Mengenal Seni Rupa
• Membuat kostum dari barang bekas
• Memperaga kan kostum barang bekas
2. Seni Tari
Pengenalan seni tari
Tekhnik membuat pola lantai
Latihan gerak dasar tari
Praktek tari tradisional
3. Seni Musik
• Pengenalan alat musik
• Cara memainkan alat musik
• Cara memainkan alat perkusi
4. Seni Vokal
• Membentuk group vokal
• Menyanyikan Lagu dengan paduan suara
5. Seni Drama
• Mengenal Seni drama
• Memilih teks drama ( naskah )
• Memilih sutradara
• Calon pemain membaca keseluruhan naskah
• Melakukan pemilihan pemeran
• Peragakan pertunjukan drama
B. PROGRAM SEMESTER EKSTRAKULIKULER SENI
Semester 1
No Kegiatan Bulan Ket
7 8 9 10 11 12
1 Seni Rupa
• Mengenal Seni Rupa
• Membuat kostum dari barang bekas
• Memperaga kan kostum barang bekas
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
2 Seni Tari
Pengenalan seni tari
Tekhnik membuat pola lantai
Latihan gerak dasar tari
Praktek tari tradisional
x
x
x
x
x
x
x
x
x
3 Seni Musik
• Pengenalan alat musik
• Cara memainkan alat musik
• Cara memainkan alat perkusi
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
4 Seni vokal
• Membentuk group vokal
• Menyanyikan Lagu dengan paduan suara
x
x
x
x
x
x
5 Seni Drama
• Mengenal Seni drama
• Memilih teks drama ( naskah )
• Memilih sutradara
• Calon pemain membaca keseluruhan naskah
• Melakukan pemilihan pemeran
• Peragakan pertunjukan drama
7 Seni Tari Melayu Kreasi
• Pengenalan terhadap seni tari melayu
• Pengenalan pola tarian
• Latihan pola lingkar
• Latihan pola vertikal
• Latihan pola horizontal
• Latihan pola diagonal
• Latihan pola melingkar
• Gerak dasar tari
• Teknik gerakan
• Koreografi tari kreasi melayu
• Teknik pementasan
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
8 Pantonim
• Konsep dan ide gagasan pantonim
• Gerak dan harmonisasi pantonim
• Cara Ekspresi dan imajinasi
• Mimik wajah
• Mack up dan kostum yang digunakan
• Latihan tampil di depan pentas
x
x
x
x
x
x
9 Solo
• Pengenalan nada-nada dasar dalam bernyanyi
• Olah vokal (materi suara) kualitas, keindahan dan karakter vokal
• Teknik intonasi, diksi
• Teknik artikulasi, pengkalimatan
• Harmonisasi, balance/keseimbangan suara dengan musik pengiring
• Pembawaan (ekspresi dan interprestasi)
• Penafsiran tempo dan dinamik serta karakteristik lagu
• Penjiwaan, imajinasi dan pengungkapan lagu
• Penampilan menguasai panggung
• Sikap profesional dan artisty, keindahan dan keserasian dalam bunyi, gerak dan segi visualnya
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
Semester 2
No Kegiatan Bulan Ket
1 2 3 4 5 6
1 Seni Rupa
• Mengenal Seni Rupa
• Membuat kostum dari barang bekas
• Memperaga kan kostum barang bekas
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
2 Seni Tari
Pengenalan seni tari
Tekhnik membuat pola lantai
Latihan gerak dasar tari
Praktek tari tradisional
x
x
x
x
x
x
x
x
x
3 Seni Musik
• Pengenalan alat musik
• Cara memainkan alat musik
• Cara memainkan alat perkusi
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
4 4. Seni Vokal
• Membentuk group vokal
• Menyanyikan Lagu dengan paduan suara
x
x
x
x
x
x
5 Seni Drama
• Mengenal Seni drama
• Memilih teks drama ( naskah )
• Memilih sutradara
x
x
x
x
x
x
6 Gambar bercerita
• Pengenalan teknik cara melakukan gambar bercerita
• Pengenalan bahan yang digunakan dalam menggambar
• Melatih membuat gambar yang sesuai tema
• Melatih kemampuan mengakpresiasikan gambar ke cerita
x
x
x
x
x
x
7 Seni Tari Melayu Kreasi
• Pengenalan terhadap seni tari melayu
• Pengenalan pola tarian
• Latihan pola lingkar
• Latihan pola vertikal
• Latihan pola horizontal
• Latihan pola diagonal
• Latihan pola melingkar
• Gerak dasar tari
• Teknik gerakan
• Koreografi tari kreasi melayu
• Teknik pementasan
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
8 Pantonim
• Konsep dan ide gagasan pantonim
• Gerak dan harmonisasi pantonim
• Cara Ekspresi dan imajinasi
• Mimik wajah
• Mack up dan kostum yang digunakan
• Latihan tampil di depan penta
X
x
x
x
x
X
BAB IV
P E N U T U P
A. Kesimpulan
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler seni semua potensi, bakat dan minat yang dimiliki oleh beberapa siswa di bidang seni dapat tergali dan tersalurkan. Sehingga dari kegiatan tersebut betul-betul akan menghasilkan kemampuan di bidang seni yang dapat diandalkan dalam berbagai kegiatan, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
B. Saran
Demi menunjang keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler seni agar dapat terlaksana sesuai dengan apa yang kita harapkan, perlua adanya kelengkapan alat/sarana berupa alat-alat seni yang menunjang dalam kegiatan Ekstrakurikuler seni, diantaranya kertas karton, kuas lukis, canting, tinta batik, perlengkapan membatik, gitar, ruangan musik, dan peralatan lain yang menunjang proses ekstrakulikuler. Dan pada akhirnya saya selaku Pembina Ekstra seni mengharapkan kepada pihak Sekolah kiranya untuk melengkapi sarana/alat – alat yang dibutuhkan.
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PROGRAM EKSTRAKULIKULER SENI
SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG
Bandar Lampung, Juli 2020
Mengetahui,
Pembina Tari 1 Kepala Sekolah
Anisa Martiah, M.Pd.E Drs. Suyitno, M.Pd
EKSTRAKULIKULER
SENI
SMA UTAMA 2
BANDAR LAMPUNG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan Taufik dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Program Kerja Kegiatan Ekstrakurikuler Seni di SMA UTAMA 2 Bandar Lampung.
Sebelumnya perlu disampaikan juga bahwa kegiatan ini sebagai wahana pembinaan bakat melalui proses kegiatan ekstrakurikuler Seni yang lebih memantapkan keterampilan dan untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan.
Kami harap dari kegiatan ini dapat memberikan satu inspirasi baru bagi kreatifitas dalam melakukan aktifitas di bidang seni khusunya bagi siswa dan siswi yang dengan keras melaksanakan latihan.
Mudah-mudahan program kerja ekstrakulikuler seni ini dapat membantu kami dalam membimbing dan mengarahkan siswa dan siswi yang kami cintai, dan semoga bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya.
Bandar Lampung , Juli 2020
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban manusia. Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, professional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan Nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriot dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiawakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para Pahlawan serta berorientasi masa depan.
Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan kegiatan-kegiatan melalui jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Pada jalur sekolah selain dilakukan kegiatan kurikuler, juga dilakukan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler dimaksudkan untuk lebih memantapkan bakat dan keterampilan dan untuk lebih mengaitkan antara pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan. Jalur luar sekolah tersebut antara lain keterampilan seni yang pelaksanaannya dilakukan oleh sekolah.
Kegiatan seni yang dilaksanakan di sekolah merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di sekolah. Seni merupakan bentuk kegiatan yang mengembangkan pengetahuan kemampuan penalaran siswa dan ketrampilan. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka agar kegiatan seni benar-benar dapat dilaksanakan sebaik-baiknya dan dapat menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional, maka perlu pembinaan kegiatan ekstrakurikuler di Bidang Seni. Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat salah satu mata pelajaran yaitu Seni Budaya dan Keterampilan yang sangat diperlukan karena didalamnya terdapat penanaman akan nilai edukasi dan estetika yang berakar pada tradisi seni budaya. Salah satu tujuan Seni Budaya dan Keterampilan adalah menggali kemampuan, bakat dan minat siswa dalam berolah seni dan rasa, baik rasa musikal, peran, gerak maupun rupa.
Tidak seimbangnya kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa dengan alokasi waktu yang tersedia, maka diperlukan waktu ekstra diluar jam pelajaran sebagai sarana pengembangan dari kemampuan yang harus dimiliki, yaitu kegiatan ekstrakulikuler. Dalam rangka pengembangan kemampuan dan menggali potensi siswa dalam mengolah rasa, maka SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG perlu mengadakan kegiatan ekstrakurikuler salah satu cabang seni tari. Kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk seni selain untuk media latihan kesehatan melalui olah tubuh juga merupakan sarana bagi para siswa untuk dapat mengembangkan potensi, bakat dan minat yang dimilikinya, sehingga menjadi manusia yang sehat dan berprestasi, baik secara individual maupun kolektif.
B. Tujuan
Tujuan Pembinaan kegiatan Ekstrakurikuler di bidang seni di SMA UTAMA 2 Bandar Lampung adalah untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, khususnya di bidang pembinaan bakat dan minat dibidang seni yang berkembang di masyarakat serta untuk membentuk siswa- siswa yang sehat, baik jasmani, jiwa dan pikirannya, sehingga menjadi manusia yang betul- betul siap dan berprestasi dalam menjalani kehidupannya baik di lingkungan akademis ataupun di masyarakat.
C. Target
Target yang ingin dicapai dalam pelaksanaan erkstrakurikuler seni yang dilaksanakan di SMA UTAMA 2 Bandar Lampung diantaranya adalah :
1. Melatih anak didik agar mampu mengembangkan dan membina potensi, minat, bakat yang dimilikinya dalam bidang seni, sehingga mampu berprestasi secara positif dalam berbagai cabang seni sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
2. Membangkitkan rasa kepercayaan diri para siswa untuk selalu hidup sebagai manusia yang sehat, sehingga dengan demikian akan lahir dorongan untuk menjauhi hal-hal yang merusak kesehatannya termasuk Narkoba .
3. Menciptakan sikap sportifitas pada siswa
4. Menciptakan lingkungan yang sehat dan kondusif bagi perkembangan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dan pengajaran di sekolah.
5. Kompetisi yang memuat cabang-cabang seni dimaksudkan untuk melatih siswa dalam menumbuhkembangkan sikap sportif dalam pergaulan dan dari sudut pandang prestasi akan mendorong siswa untuk lebih memperbaiki dan meningkatkan dirinya di bidang seni.
6. Memperhalus rasa yang ada pada siswa agar mampu mengapresiasi dan mengekspresikan nilai-nilai seni yang ada pada dirinya.
7. Mengenalkan dan menanamkan rasa cinta siswa terhadap seni
8. Sebagai sarana dan wadah untuk menggali ekspresi, potensi bakat dan minat siswa dalam berolah seni.
D. Waktu dan Tempat Kegiatan
1. Waktu latihan
Dilaksanakan setiap hari Senin pukul 15.30-17.00 WIB dan Kamis pukul 15.30-17.00 WIB
2. Tempat kegiatan
Ruang Keterampilan/Lap Musik dan Aula
BAB II
PENGORGANISASIAN
Untuk memperlancar kegiatan ekstrakurikuler seni, maka dibentuklah susunan kepengurusan, diantaranya adalah sebagai berikut :
A. Penanggung Jawab : Drs. Suyitno, M.Pd (Kepala Sekolah)
B. Koordinator : Lailatun Hermaini K, S.Sos
C. Ketua : Anisa Martiah, M.Pd.E
D. Bendahara : Lilik Supriyanto, S.Pd
E. Seksi Pelaksana :
1. Seni Rupa
2. Seni Tari
3. Seni musik
4. Seni vokal / Paduan suara
BAB III
PELAKSANAAN EKSTRAKURIKULER SENI
A. BENTUK KEGIATAN
1. Seni Rupa
• Mengenal Seni Rupa
• Membuat kostum dari barang bekas
• Memperaga kan kostum barang bekas
2. Seni Tari
Pengenalan seni tari
Tekhnik membuat pola lantai
Latihan gerak dasar tari
Praktek tari tradisional
3. Seni Musik
• Pengenalan alat musik
• Cara memainkan alat musik
• Cara memainkan alat perkusi
4. Seni Vokal
• Membentuk group vokal
• Menyanyikan Lagu dengan paduan suara
5. Seni Drama
• Mengenal Seni drama
• Memilih teks drama ( naskah )
• Memilih sutradara
• Calon pemain membaca keseluruhan naskah
• Melakukan pemilihan pemeran
• Peragakan pertunjukan drama
B. PROGRAM SEMESTER EKSTRAKULIKULER SENI
Semester 1
No Kegiatan Bulan Ket
7 8 9 10 11 12
1 Seni Rupa
• Mengenal Seni Rupa
• Membuat kostum dari barang bekas
• Memperaga kan kostum barang bekas
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
2 Seni Tari
Pengenalan seni tari
Tekhnik membuat pola lantai
Latihan gerak dasar tari
Praktek tari tradisional
x
x
x
x
x
x
x
x
x
3 Seni Musik
• Pengenalan alat musik
• Cara memainkan alat musik
• Cara memainkan alat perkusi
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
4 Seni vokal
• Membentuk group vokal
• Menyanyikan Lagu dengan paduan suara
x
x
x
x
x
x
5 Seni Drama
• Mengenal Seni drama
• Memilih teks drama ( naskah )
• Memilih sutradara
• Calon pemain membaca keseluruhan naskah
• Melakukan pemilihan pemeran
• Peragakan pertunjukan drama
7 Seni Tari Melayu Kreasi
• Pengenalan terhadap seni tari melayu
• Pengenalan pola tarian
• Latihan pola lingkar
• Latihan pola vertikal
• Latihan pola horizontal
• Latihan pola diagonal
• Latihan pola melingkar
• Gerak dasar tari
• Teknik gerakan
• Koreografi tari kreasi melayu
• Teknik pementasan
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
8 Pantonim
• Konsep dan ide gagasan pantonim
• Gerak dan harmonisasi pantonim
• Cara Ekspresi dan imajinasi
• Mimik wajah
• Mack up dan kostum yang digunakan
• Latihan tampil di depan pentas
x
x
x
x
x
x
9 Solo
• Pengenalan nada-nada dasar dalam bernyanyi
• Olah vokal (materi suara) kualitas, keindahan dan karakter vokal
• Teknik intonasi, diksi
• Teknik artikulasi, pengkalimatan
• Harmonisasi, balance/keseimbangan suara dengan musik pengiring
• Pembawaan (ekspresi dan interprestasi)
• Penafsiran tempo dan dinamik serta karakteristik lagu
• Penjiwaan, imajinasi dan pengungkapan lagu
• Penampilan menguasai panggung
• Sikap profesional dan artisty, keindahan dan keserasian dalam bunyi, gerak dan segi visualnya
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
Semester 2
No Kegiatan Bulan Ket
1 2 3 4 5 6
1 Seni Rupa
• Mengenal Seni Rupa
• Membuat kostum dari barang bekas
• Memperaga kan kostum barang bekas
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
2 Seni Tari
Pengenalan seni tari
Tekhnik membuat pola lantai
Latihan gerak dasar tari
Praktek tari tradisional
x
x
x
x
x
x
x
x
x
3 Seni Musik
• Pengenalan alat musik
• Cara memainkan alat musik
• Cara memainkan alat perkusi
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
4 4. Seni Vokal
• Membentuk group vokal
• Menyanyikan Lagu dengan paduan suara
x
x
x
x
x
x
5 Seni Drama
• Mengenal Seni drama
• Memilih teks drama ( naskah )
• Memilih sutradara
x
x
x
x
x
x
6 Gambar bercerita
• Pengenalan teknik cara melakukan gambar bercerita
• Pengenalan bahan yang digunakan dalam menggambar
• Melatih membuat gambar yang sesuai tema
• Melatih kemampuan mengakpresiasikan gambar ke cerita
x
x
x
x
x
x
7 Seni Tari Melayu Kreasi
• Pengenalan terhadap seni tari melayu
• Pengenalan pola tarian
• Latihan pola lingkar
• Latihan pola vertikal
• Latihan pola horizontal
• Latihan pola diagonal
• Latihan pola melingkar
• Gerak dasar tari
• Teknik gerakan
• Koreografi tari kreasi melayu
• Teknik pementasan
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
8 Pantonim
• Konsep dan ide gagasan pantonim
• Gerak dan harmonisasi pantonim
• Cara Ekspresi dan imajinasi
• Mimik wajah
• Mack up dan kostum yang digunakan
• Latihan tampil di depan penta
X
x
x
x
x
X
BAB IV
P E N U T U P
A. Kesimpulan
Dari uraian tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler seni semua potensi, bakat dan minat yang dimiliki oleh beberapa siswa di bidang seni dapat tergali dan tersalurkan. Sehingga dari kegiatan tersebut betul-betul akan menghasilkan kemampuan di bidang seni yang dapat diandalkan dalam berbagai kegiatan, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
B. Saran
Demi menunjang keberhasilan kegiatan ekstrakurikuler seni agar dapat terlaksana sesuai dengan apa yang kita harapkan, perlua adanya kelengkapan alat/sarana berupa alat-alat seni yang menunjang dalam kegiatan Ekstrakurikuler seni, diantaranya kertas karton, kuas lukis, canting, tinta batik, perlengkapan membatik, gitar, ruangan musik, dan peralatan lain yang menunjang proses ekstrakulikuler. Dan pada akhirnya saya selaku Pembina Ekstra seni mengharapkan kepada pihak Sekolah kiranya untuk melengkapi sarana/alat – alat yang dibutuhkan.
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PROGRAM EKSTRAKULIKULER SENI
SMA UTAMA 2 BANDAR LAMPUNG
Bandar Lampung, Juli 2020
Mengetahui,
Pembina Tari 1 Kepala Sekolah
Anisa Martiah, M.Pd.E Drs. Suyitno, M.Pd
PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM
Implementasi kurikulum memerlukan seseorang yang berperan sebagai pelaksananya. Guru merupakan faktor penting dalam implementasi kurikulum karena ia merupakan pelaksana kurikulum. Karena itu guru dituntut memiliki kemampuan untuk mengimplemntasikan, tanpa itu Kurikulum tidak akan bermakna sebagai alat pendidikan, dan sebaliknya pembelajaran tidak akan efektif tanpa kurikulum sebagai pedoman. Dengan demikian guru menempati posisi kunci dalam implementasi kurikulum.
Selanjutnya dalam proses pengembangan kurikulum peran guru lebih banyak dalam tataran kelas. Murray Print (1993) mengemukakan peran guru dalam tingkatan tersebut sebagai berikut :
1.Implementer
Sebagai implementer, guru berperan untuk mengaplikasikan kurikulum yang sudah ada. Di sini guru hanya menerima berbagai kebijakan perumus kurikulum. Guru tidak memiliki kesempatan baik untuk menentukan isi kurikulum maupun menentukan target kurikulum. Peran guru hanya sebatas menjalankan kurikulum yang telah disusun. Peran ini pernah dilaksanakan di Indonesia yaitu sebelum reformasi, yaitu guru sebagai implementator kebijakan kurikulum yang disusun secara terpusat, dituangkan dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Dalam GBPP yang berbentuk matrik telah ditentukan dari mulai tujuan yang harus dicapai, materi pelajaran yang harus disampaikan, cara yang harus dilakukan, hingga alokasi waktu pelaksanaan.
Dalam pengembangan kurikulum guru dianggap sebagai tenaga teknis yang hanya bertanggung jawab dalam mengimplementasikan berbagai ketetntuan yang ada. Kurikulum bersifat seragam, sehingga apa yang dilakukan guru di Indonesia bagian timur sama dengan apa yang dilakukan guru di Indonesia bagian barat. Dengan terbatasnya peran guru di sini, maka kreatifitas guru dan inovasi guru dalam merekayasa pembelajaran tidak berkembang. Guru tidak ada motivasi untuk melakukan berbagai pembaruan. Mengajar mereka anggap sebagai tugas rutin dan kesehari
2.Adapter
Pada peran ini guru memiliki peran lebih dari sekedar pelaksana kurikulum, tetapi sebagai penyelaras kurikulum dengan karakteristik dan dan kebutuhan siswa dan kebutuhan daerah. Guru diberikan kewenangan untuk mnyesuaikan kurikuum dengan kebutuhan daerah ataupun karakteristik sekolah. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang dikembangkan di Indonesia, terdapat peran guru dalam fase ini, yaitu bahwa para perancang kurikulum hanya menentukan standar isi sebagai standar minimal yang harus dicapai, bagaimana implementasinya, kapan waktunya, dan hal-hal teknis lainnya ditentukan oeh guru. Dengan demikian peran guru sebagai adapter lebih luas dibandingkan dengan peran sebagai implementer.
3.Developer
Dalam tingkat ini guru berperan sebagai pengembang kurikulum, guru memiliki kewenangan dalam mendesain sebuah kurikulum. Guru tidak hanya bisa menentukan tujuan dan isi pelajaran yang akan disampaikan, tetapi bahkan dapat menentukan strategi apa yang harus dikembangkan dan sistem evaluasi apa yang akan digunakannya. Sebagai pengembang kurikulum guru sepenuhnya dapat menyusun kurikulum sesuai dengan karakteristik, misi dan visi sekolah/madrasah, serta sesuai dengan pengalaman belajar ayang diperlukan anak didik. Dalam KTSP peran ini dapat dilihat dalam pengembangan kurikulum muatan lokal. Dalam pengembangan kurikulum muatan lokal, sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing satuan pendidikan, karena itu kurikulum yang berkembang dapat berbeda antara lembaga yang satu dengan lembaga yang lainnya. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.
4.Researcher
Fase terakhir adalah peran guru sebagai peneliti kurikulum (curriculum researcher). Peran ini dilaksanakan sebagai bagian dari tugas professional gurub yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kinerjanya sebagai guru. Dala mperan ini guru memiliki tanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum, misalnya menguji bahan-bahan kurikulum, menguji efektivitas program, strategi maupun model pembelajaran, termasuk mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai target kurikulum. Salah satu metode yang dianjurkan dalam penelitian adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni metode penelitian yang berangkat dari masaah yang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum. Melalui PTK, guru berinisiatif melakukan penelitian sekaligus melaksanakan tindakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dengan demikian, PTK merupakan salah satu metode yang tidak hanya menambah wawasan guru dan menambah profesionalismenya, tetapi secara terus-menerus dapat meningkatkan kualitas kinerjanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH (RPS) 2021
Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Kegiatan In House Training (IHT) di SM...
-
5 TEKNOLOGI PEMBELAJARAN JARAN JAUH YANG BISA DIGUNAKAN OLEH SISWA, GURU, DAN ORANG TUA. Ketika penerapan belajar di rumah resmi...
-
Kurikulum memiliki dua sisi yang sama penting, yaitu kurikulum sebagai dokumen dan kurikulum sebagai implementasi. Sebagai sebuah dokume...













